Jumat, 21/05/2010, 14:30:00
Polusi Udara Peternakan Lampaui Batas Toleransi
Riyanto Jayeng

Dayat (berkaos biru) mandor perusahaan peternakan ayam sedang mengawasi proses transaksi penjualan ayam potong. Perusahaan yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan Kelurahan Panggung, Tegal Timur, Kota Tegal dinilai warga meresahkan karena menimbulkan aroma tidak sedap. (FT: Riyanto Jayeng)

PanturaNews (Tegal) - Warga Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Tegal, Jawa Tengah, mengeluhkan keberadaan peternakan ayam di blok RT 05 RW V Kelurahan Panggung yang menebarkan aroma tidak sedap. Helmi, salah seorang warga di wilayah RT 10 RW VI yang lokasinya berada di sebelah selatan peternakan ayam tersebut, Jumat 21 Mei 2010 mengatakan, polusi udara dengan aroma tidak sedap yang ditimbulkan peternakan ayam itu sudah melapaui batas toleransi.

“Kalau angin mengarah ke selatan, kami semua warga yang ada di sebelah selatan peternakan pasti terkena dampak pencemaran udara yang ditimbulkan peternakan ayam itu. Kami akan menyurati Walikota melalui Kantor Lingkungan Hidup, agar keluhan warga bisa tertangani sesuai prosedur,” kata Helmi.

Hal senada disampaiakan Ketua RT 10 RW VI Kelurahan Panggung, Akhmad Jauhari. Menurutnya, sudah lama aroma tidak sedap yang ditimbulkan peternakan ayam itu berlangsung. Namun tidak ada satupun perwakilan pemerintah, baik dari kecamatan maupun Pemkot yang merespon.

“Jujur kami mengeluhkan aroma tidak sedap dari peternakan ayam itu. Kami minta pemkot untuk segera menindak lanjuti keluhan warga. Sebab kalau permasalahan ini berlarut tidak tertangani, khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan,” ujar Jauhari.

Sementara Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Tegal, H Sugeng Suwaryo S.Sos saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BP2T), Satpol PP dan Bagian Peternakan Dinas Kelautan dan Pertanian untuk melakukan kroscek terkait keluhan warga terhadap aroma tidak sedap yang ditimbulkan peternakan ayam tersebut.

“Setidaknya langkah awal kami akan menanyakan perijinan dari mulai ijin HO sampai perijinan yang lain. Bau kotoran ayam yang ditimbulkan peternakan ayam itu memang meresahkan sekali. Lagipula, di wilayah Jalan Perintis Kemerdekaan adalah area industri non polutif. Tapi kenapa ada peternakan ayam yang bebas menebarkan bau tidak sedap ke warga sekitar,” kata Sugeng.

Lebih jauh Sugeng menjelaskan, untuk kasus-kasus masyarakat yang erat hubungannya dengan masalah lingkungan hidup, pihaknya akan menggiringnya dengan instrument hukum berupa UU No 32 Tahun 2009 tentang pengelolaan lingkungan hidup. Saat ini UU tersebut sedang gencar disosialisasikan ke beberapa sektor usaha pengelolaan lingkungan hidup.

“Kami akan terapkan UU No 32 Tahun 2009 terhadap kasus yang berhubungan dengan lingkungan hidup. Perlu diketahui ada sekitar 35  perusahaan kecil, menengah, besar di Kota Tegal yang belum memilki dokumen UKL-UPL, mereka sudah kami tegur dan nanti akan ditinjau langusng oleh tim lingkungan hidup dari provinsi,” ungkapnya.

Pemilik peternakan ayam, Dani, saat hendak dikonfirmasi tidak berada di tempat. Menurut keterangan mandor peternakan, Dayat, pemilik sedang berada di luar kota.

Dayat menjelaskan, jumlah ayam potong yang ada di peternakan ayam itu 5000 ekor. Dirinya juga menyampaikan, kaitan dokumen perijinan yang dimiliki perusahaan peternakan ayam tersebut sudah lengkap semua.

“Pemilik sedang berada di luar kota, jadi kami tidak dapat menjelaskan lebih banyak. Kalau masalah perijinan, saya rasa semua sudah lengkap. Jumalh ayam potong yang ada di peternakan ini mencapai 5000 ekor. Kalau persoalan bau tidak sedap, baru terjadi akhir-akhir ini selama musim penghujan dan kemarau yang tidak beraturan. Biasanya juga tidak menimbulkan bau apapun,” tandas Dayat.


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita