Jumat, 21/04/2017, 03:46:54
Munculnya Gagasan Dirikan Pesantren Terminal
Laporan SL Gaharu

Ahmad Farhan (kiri) dan Darsiti (kanan) saat berkesempatan menguji Sisri mengeja huruf Al Quran (Foto: Gaharu)

PanturaNews (Tegal) - Ketika melihat puluhan ibu-ibu dan anak-anak para pedagang asongan di Terminal Kota Tegal, Jawa Tengah, tentu saja, siapapun akan tersentuh hatinya. Betapa tidak, ibu-ibu bahkan nenek-nenek yang keseharianya naik turun bus menjajakan daganganya, setelah mendapat pendidikan kini lancar membaca huruf-huruf Al Quran.

Munculnya gagasan mendirikan Pesantren Terminal di Terminal Kota Tegal, dilontarkan Kepala Kementrian Agama (Kemenag) Kota Tegal, Ahmad Farhan saat memberi sambutan pada pengajian Peringatan Hari Kartini yang digelar di markas Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sakila Kerti di dalam Terminal Kota Tegal, Kamis 20 April 2017 kemarin.

Gelaran bertajuk ‘Literasi Bermakna, Semesta Menyapa 500 Peserta’ ini, diisi dengan mengaji. Pesertanya para pengasong terminal, ibu-ibu dari 18 Majelis Taklim se Kecamatan Margadana, Kota Tegal dan masyarakat sekitar terminal.

“Gagasan yang diungkapkan Bapak Ahmad Farhan sangat beralasan, saat melihat potensi mendirikan Pesantren Terminal sudah lengkap. Gagasan itu sangat tepat. Tenaga pendidik dan sumber daya pendukung lainnya sudah ada. Hal lain yang sangat mendukung, adalah keinginan warga terminal sendiri, yaitu kemauan belajar agama yang sangat kuat. Keinginan itu sama kuatnya dengan minat baca dan menimba pengetahuan, sehingga TBM Sakila Kerti bertahan hingga sekarang,” tutur Pengelola TBM Sakila Kerti, DR Yusqon.

Dijelaskan dia, sejak Oktober 2016 silam, TBM Sakila Kerti kerja sama dengan Kemenag Kota Tegal, memberi kesempatan kepada para pengasong dan warga terminal lainnya untuk belajar membaca Al Quran. Setelah program yang dibina langsung oleh Penyuluh Agama Kementrian Agama (Kemenag) Kota Tegal, Darsiti, berjalan ternyata peminatnya sangat banyak.

“Ternyata yang punya kemauan untuk belajar membaca Al Quran sangat banyak. Tidak hanya yang muda-muda, yang tua bahkan yang sudah nenek-nenek pun punya keinginan lancar membaca Al Quran. Setelah saya tanya-tanya, ternyata mereka punya prinsip bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar, apalagi belajar agama,” ungkap DR Yusqon terharu.

Guru yang mendidik mereka mengaji, salah satunya Darsiti langsung. Menurut dia, mengajari mereka hati rasanya lega. Awalnya terharu, melihat para pengasong yang sudah lanjut usia masing punya semangat belajar.

“mereka yang sehari-harinya hanya menjajakan dagangan naik turun bus, menghadari kehidupan yang keras di terminal, ternyata cepat sekali nenangkap apa yang diajarkan. Perkembanganya cepat sekali. Hanya dalam tempo 8 bulan, mereka sudah lancar membaca Al Quran,” tutur Darsiti di sela pengajian yang digelar TBM Sakila Kerti.

Menurut Darsiti, para pengasong belajar setiap hari Jumat jam 10 sampai jam 12 siang. Selain hari itu, para pengasong disela waktu istirahatnya, selalu menyempatkan belajar sendiri, atau membaca buku lain yang ada di TBM Sakila Kerti. Dari awalnya membaca ribuan buku yang tersedia di TBM Sakila Kerti itu, mereka bisa menimba ilmu pengetahuan. Bagi ibu-ibu yang tidak bisa membaca, mereka dipandu oleh petugas yang di TBM itu.

“Saya selalu melaporkan semua kegiatan di TBM Sakila Kerti, termasuk perkembangan belajar mengaji para pengasong kepada atasan saya di kantor,” terang Darsiti.

Kebanggaan yang ada di hati seorang Penyuluh Agama, juga nampak saat ibu-ibu pengasong binaanya mampu tampil menyanyikan lagu-lagi kasidah dengan baik dan ceria. Ibu-ibu pengasong itu juga dibina Darsiti berkasidah, dan mereka dibentuk dalam satu grup kasidah Al Istiqomah.

“Kami terharu melihat semangat ibu-ibu yang masih berpikir untuk belajar, sehingga rasa haru kami berubah menjadi rasa bangga. Ya kami bangga,” tandas Darsiti.

Sisri yang masih berusia 18 tahun itu, sejak lahir sudah cacar. Tangan dan kaki ukuranya tidak normal serta tidak memiliki jari-jari. Namun, dengan keterbatasan yang dia miliki, tidak mengendurkan semangatnya belajar. Disela istirahatnya, Sisri selalu menyempatkan dating ke TBM Sakila Kerti untuk membaca buku apa saja.

“Matur suwun kalih Pak Yusqon. Alhamdulillah saiki aku bisa ngaji bareng kanca-kanca nang TBM kéné, (Terimakasih kepada Pak Yusqon. Alhamdulillah saya dapat bergabung dan mengaji bersama dengan teman-teman di TBM ini)," tutur Sisri yang sekarang sudah lancar membaca huruf Al Quran.

Perasaan serupa juga dilontarkan nenek Wariah. Dia yang sudah berusia diatas 70 tahun, pun tak menyia-nyiakan hidupnya ketika fasilitas untuk ‘mengaji’ ada di depan mata. Awalnya, ketika delapan tahun silam TBM Sakila Kerti didirikan di sudut dalam terminal, dia hanya bisa melihat-lihat, dan sesekali melihat gambar-gambar yang ada di buku-buku. Maka ketika digelar program ngaji, nenek itupun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

Alhamdulillah saniki kulo sampun saget maos quran. Mugi-mugi anak putu kulo saget blajar teng mriki, (Alhamdullilah sekarang saya sudah bisa baca quran. Semoga anak cucu saya juga bisa belajar disini),” ungkap Wariah bangga.

Rasa bangga itu, pada akhirnya, dimiliki juga oleh semua warga terminal dan mereka-mereka yang terlibat di TBM Sakila Kerti. Termasuk rasa bangga yang dimiliki oleh Kepala Kemenag Kota Tegal, Ahmad Farhan. Rasa yang juga dimiliki nenek Wariah, Atin, Neneng, Wasri, Sisri yang cacat fisiknya dan pengasong, tukang sapu, tukang semir, awak bus, tukang Koran dan lainnya. Semoga saja niat kebaikan itu akan terwujud. Ya, semoga saja gagasan dan rasa bangga itu juga datang dari banyak pihak. Setidaknya saling mendukung.



 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita