|
Kata menghidupkan dan meramaikan, maknanya jelas sangat berbeda. Menghidupkan memiliki makna yang mendasar, dan melibatkan pada pelakunya untuk terlibat secara langsung dan total. Sedangan kata meramaikan hanya berada di permukaan saja, bagi pelakunya asal ikut dan yang paling dominan modusnya adalah ikut-ikutan.
Menurut Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah, Zaenal Arifin SAg, dalam konteks bulan Ramadhan masih banyak orang yang meramaikan daripada orang yang menghidupkan.
"Diakui atau tidak, kita ini lebih banyak meramaikan Ramadhan dan sedikit yang benar-benar menghidupkan Ramadhan," ujarnya kepada PanturaNews, Senin 23 Agustus 2010 sore.
Saat akan memasuki Ramadhan, misalnya, maka yang terjadi adalah maraknya kegiatan yang tidak berkaitan dengan ibadah puasa. Di bulan Ramadhan yang semestinya mengurangi pola hidup konsumtif, tapi yang terjadi pasar-pasar justru banyak dipenuhi oleh orang-orang yang belanja.
"Pokoknya, masing-masing kita bisa melihat dan merasakan bahwa yang mendominasi bulan Ramadhan bukan lagi modus untuk menghidupkan, tapi modus meramaikan," tandas Zaenal.
Dikatakan, di bulan penuh berkah yang sudah berlangsung hampir setengahnya ini, hendaknya diisi dengan memperbanyak ibadah kepada Allah, memperpanjang ruku’, sujud, shalat tarawih, bermunajat kepada Allah, memperbanyak sholat nawafil, senantiasa berzikir, tilawah dan tadabbur al-Quran, i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, mengurangi waktu tidur pada siang hari.
Selain itu aktivitas Ramadhan juga harus dapat memperkokoh hubungan dengan sesama, seperti memberikan zakat, infaq dan shodaqoh, memberi buka dan lainnya. Menjauhkan diri dari perbuatan sia-sia di bulan Ramadhan, adalah fursoh untuk memperbanyak ibadah sehingga kita dapat menjauhi hal-hal yang mempersempit waktu ibadah, seperti menghabiskan waktu hampir seharian di dapur untuk menyiapkan makanan berbuka.
"Sehingga saat yang terbaik untuk pengisian ruh dan pensucian jiwa, hilang begitu saja dengan pengisian perut dan pengotoran jiwa, menghabiskan waktu di depan televisi dan perbuatan lainnya yang cenderung tidak ada gunanya," jelas Zaenal.
Hal yang terpenting dalam Ramadhan ini, adalah kita bertekad untuk menyelami rahasia kehidupan, dari mana, di mana dan hendak kemana kita? Sehingga kita akan menghayati bahwa dunia ini adalah tempat berusaha untuk mematuhi perintah Allah, dan akhirat adalah untuk menerima balasan dari-Nya.
"Maka semestinya berusaha untuk mendapatkan rahmat dan ampunan Allah, karena sesungguhnya kecelakaanlah bagi orang-orang yang tidak mendapatkan rahmat Allah pada bulan yang penuh dengan rahmat ini," pungkas Zaenal.