Kamis, 15/06/2017, 04:32:05
Mencari Pemimpin Pada Pilkada Kota Tegal 2018
Laporan SL Gaharu

Enthus Susmono saat berbicara di acara yang digelar KPKT di Hotel Bahari Inn Kota Tegal (Foto: Takwo Heriyanto)

PanturaNews (Tegal) - Kota Tegal sedang dalam keadaan darurat. Pertanyaanya, apa yang sedang terjadi sehingga masyarakat resah. Jawabanya, karena adanya pelanggaran undang-undang. Itu perlu dicari penyebabnya, dan dicari pula solusinya.

Demikian dikatakan H.M Basri Budi Utomo selaku Ketua Panitia Penyelenggara Silaturahmi Ramadhan Bersama Tokoh Masyarakat Tegal, Menuju Tegal Lebih Baik, di Kafe Nelayan Bahari Inn Kota Tegal, Rabu Juni 2017 pukul 21.00 - 12.30 WIB.

“Banyak pelanggaran undang-undang yang dilakukan pemimpin Kota Tegal saat ini. Misalnya disharmonisasi antara walikota dengan wakil walikota. Wakil walikota dianggap tidak ada, diabaikan. Termasuk walikota yang tidak mematuhi putusan PTUN dan banyak lagi, seperti yang sudah kami nyatakan sebagai 10 dosa besar walikota,” tutur Basri Budi Utomo yang juga Ketua Presidium Komite Penyelamat Kota Tegal (KPKT).

Awalnya, menurut Basri, tema acara adalah Silaturahmi Ramadhan Bersama Tokoh Masyarakat Tegal Dalam Rangka Menyongsong Suksesi Kepemimpinan Kota Tegal Tahun 2018. Namun karena ada yang keberatan, maka tema diganti menjadi Menuju Tegal Lebih Baik.

“Dengan tema itu ada yang kobongan, padahal ora diobong,” terangnya.

Sebagai nara sumber pada acara yang bertajuk “Tegal Kembali Bermartabat” diantaranya Bupati Tegal Enthus Susmono, Wakil Walikota Tegal HM Nursholeh, Laksamana Sunaryo, Dr Maufur, H.M Basri Budi Utomo dengan moderator Dr Yayat Hidayat Amir.

Hadir sebagai undangan para politisi, budayawan, tokoh-masyarakat, tokoh pendidikan, akademisi dan ormas serta para aktivis diantaranya Walikota Pekalongan, Dr Yusqon, Atmo Tan Sidik, H Ghautsun, dr Muslih, H Hadirin, Mulyadi, H Moh Ilyas, Yono Daryono, H Sisdiono Ahmad, H Amiruddin, Rahmat Raharjo serta lainnya.

“Pada kesimpulanya, diskusi mengerucut pada bagaimana strategi politik untuk perbaikan, dan mencari pemimpin baru pada Pilkada Kota Tegal 2018,” ujarnya.

Dikatakan Dr Yayat Hidayat Amir bahwa acara mengarah ke persoalan untuk mendapat gambaran situasi politik saat ini, dimana pada masa-masa akhir jabatan walikota. Pada menjelang Pilkada 2018, saat ini sudah terjadi proses-proses politik dengan memobilisasi massa, ASN.

Wakil Walikota Tegal HM Nursholeh pada paparanya sepakat jika ada usulan bersatunya para kandidat calon walikota, yang pada akhirnya akan memunculkan satu calon, dan calon lainnya mendukung satu calon yang paling punya potensi.

“Kalau strategi itu pada akhirnya memang terjadi, saya sangat legowo. Saya sudah melakukan komunikasi dengan beberapa kandidat, Insya Allah hasilnya akan baik,” ujarnya yang akrab disapa Kang Nur.

Demikian pula yang dikatakan Bupati Tegal, Enthus Susmono bahwa Pilkada Kota Tegal akan lebih baik diikuti dua calon. Untuk melawan incumbent, strategi yang baik adalah head to head. Untuk melawan kekuatan incumbent, dengan bersatunya para kandidat dan memunculkan hanya satu calon, itu langkah yang sangat menguntungkan.

“Persoalanya, bisakah para calon-calon itu bersatu, kemudian hanya memunculkan satu calon?,” ujar Ki Enthus.

Pada sesi tanya jawab, politisi Tatang Suandi menyatakan menyatukan beberapa calon sangat sulit terjadi. Menurutnya, proses pencalonan di partai politik ada tahapan proses sampai turunya rekomendasi dari DPP. Pemikiran DPP belum tentu sepaham dengan pemikiran politisi di daerah.

“Ada gengsi politik untuk bisa menyatukan para calon. Menurut saya ini sangat sulit terjadi,”

Sementara Laksamana Sunaryo juga menyepakati jika para calon bisa disatukan. Menurutnya, hal yang paling penting adalah, bagaimana Kota Tegal memiliki pemimpin yang baik, amanah dan melindungi rakyatnya. Bermorat dan memiliki jiwa dan karakter seperi air, api, angin dan tanah.

“Pemimpin yang baik adalah peminpin yang disukai rakyatnya, mensejahterakan rakyatnya. Kalau pemimpinanya senang, tapi rakyatnya menderita, itu bukan sifat seorang pemimpin,” tuturnya.

Diskusi berlangsung lancar hingga akhir acara. Sejak dibuka hingga akhir acara, undangan yang hadir sangat puas, bahkan diskusi bisa berlanjut rutin. Dengan munculnya usulan itu, panitia siap menggelar diskusi kedua dan ketiga.

“KPKT dipastikan akan menggelar diskusi lanjutan, mungkin waktunya setelah Lebaran. Pada waktu yang sama, KPKT juga akan menerbitkan buku 10 Dosa Besar Walikota Tegal. Buku ini bukan opini, karena buku ini dilengkapi dengan data yang akurat,” tambah Basri.



 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita