Jumat, 14/07/2017, 01:44:27
Pekik Merdeka Sebagai Salam Nasional
Oleh: H. Edi Suripno, SH, MH

Pasca Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, setiap kali orang bertemu pasti mengucapkan salam “Merdeka”. Apalagi setelah pekik “Merdeka” ditetapkan melalui Maklumat Pemerintah tanggal 31 Agustus 1945 sebagai salam nasional, yang berlaku mulai 1 September 1945. 

Adalah Soekarno yang memelopori pekik salam perjuangan “Merdeka”. Secara filosofis, pekik “Merdeka” adalah pekik pengikat, yang merupakan cetusan dari bangsa yang berdaulat, yang bebas tanpa ikatan penjajahan atau imperialisme. Itu merupakan bagian dari usaha untuk menggembleng rakyat Indonesia, agar tetap bersemangat mempertahankan kemerdekaan.

Menurut Cindy Adams, seorang wartawati Amerika, penulis buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, Bung Karno menerangkan nilai-nilai dan semangat yang terkandung dalam salam itu dengan berkata:

“Sebagaimana Nabi Besar Muhammad Sallallahu’alaihi Wasallam telah Menemukan ucapan Salam untuk mempersatukan umatnya, maka turun pulalah suatu Ilham dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, untuk memekikkan suatu Salam Kebangsaan bagi bangsa Indonesia”. Pada tanggal 1 September 1945, aku menetapkan supaya setiap warga negara Republik Indonesia memberi salam kepada yang lain dengan mengangkat tangan, kelima jari terbuka lebar -yang maksudnya lima sila- dan meneriakkan “Merdeka”.

Tak henti-hentinya Bung Karno mensosialisaikan dan menggembleng serta menyadarkan bangsanya seperti dalam pidato di Surabaya, tanggal 24 September 1955, Bung Karno berkata dengan berapi-api untuk mengingatkan rakyat Indonesia agar selalu menggelorakan pekik pengikat bangsa:

“Sebagai warga negara Republik Indonesia, saya menyampaikan kepada saudara-saudara sekalian, baik yang beragama Islam, baik yang beragama Hindu-Bali, baik yang beragama lain, kepada saudara-saudara sekalian saya menyampaikan salam nasional “Merdeka”.

Dan sebagai warganegara merdeka, saya tadi memekikkan pekik “Merdeka” bersama-sama dengan kamu. Kamu yang beragama Syiwa-Buddha, Hindhu-Bali atau agama lain. Pekik merdeka adalah pekik yang membuat rakyat Indonesia itu, walaupun jumlahnya 80 juta, menjadi bersatu tekad, memenuhi sumpahnya “Sekali merdeka tetap merdeka”.

“Pekik Merdeka, Saudara-saudara, adalah pekik pengikat”.

Dan bukan saja pekik pengikat, melainkan adalah cetusan daripada bangsa yang berkuasa sendiri, dengan tiada ikatan imperialisme, dengan tiada ikatan penjajahan sedikitpun. Maka oleh karena itu, saudara-saudara, terutama sekali fase revolusi nasional kita sekarang ini, fase revolusi nasional yang belum selesai, jangan lupa pada pekik merdeka ! Tiap-tiap kali kita berjumpa satu sama lain, pekikkanlah pekik “Merdeka” !!”

“Jikalau orang Indonesia berjumpa dengan orang Indonesia, Warganegara Republik Indonesia berjumpa dengan warganegara Republik Indonesia, pendek kata jikalau orang Indonesia bertemu dengan orang Indonesia, selalu memekikkan pekik Merdeka !. Jangankan di Sorga, didalam nerakapun!” (Kumpulan pidato Bung Karno menggali Panca Sila, Wawan Tunggul Alam, SH, Gramedia 2001 hal 35-38).

Hebatnya salam nasional warisan Bung Karno, ternyata mampu menembus sekat-batas wilayah negara dan adat istiadat serta kebangsaan. Di era tahun 1950 dan 1960-an, tatkala perang dingin sedang memuncak antara Blok Barat yang dimotori oleh Amerika Serikat dengan Blok Timur yang dimotori oleh Uni Soviet, banyak aktivis politik dan seniman dunia ketiga di Asia-Afrika, dan Amerika Latin terinspirasi luar biasa oleh salam tersebut.

Adalah Khair Ahmad Khair, seorang penyair top dari Sudan yang selalu membuka dan menutup pidatonya dari mimbar pengarang Asia Afrika, dengan pekik “Merdeka” sambil mengacungkan tinju kanannya ke udara. Ia yakin salam itu maknanya luar biasa, sehingga dengan penuh keyakinan ia pergunakan di ajang pertemuan pengarang Asia Afrika. (100 Tahun Bung Karno, Hasta Mitra 2001 hal 207).

Orang asing saja dengan penuh kerelaan, kesadaran dan percaya diri mau menggunakan salam ini. Pastilah salam ini bukan sembarang salam, sehingga pantaslah kalau kita pergunakan untuk merajut persatuan dan kesatuan. Mengapa salam “Merdeka” dapat menjadi begitu bernilai dalam kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara? Apa arti dan filosofinya?.

Sangat disesalkan Kata “Merdeka” selama ini selalu dikatakan oleh para pakar berasal dari bahasa Sanskerta yaitu ‘Mahardika’, dengan pendapat ini secara tidak langsung berakibat mendelegitimasi salam ini, bahkan ada seorang pemimpin bangsa mengatakan “Bengak-Bengok Kaya Durung Merdeka” yang akibat selanjutnya muncul keengganan mempergunakannya.

Akan tetapi beberapa orang bijak sesepuh pini-sepuh Jawa, membisiki saya bahwa kata “Merdeka” berasal dari bahasa jawa “Mardika”, sedangkan maknanya mesti dicari dengan cara kiratabasa atau jarwadosok yaitu:

Mardi berarti tempat, sarana atau Jalan. Perbedaan arti Mardi dan Margi. Margi adalah jalan yang konkrit berwujud bisa diraba, sedangkan Mardi juga bisa diartikan jalan yang bersifat abstrak tidak bisa diraba.

Ika Berarti Satu, Tunggal, Esa dimaknai sebagai Hyang Tunggal atau Yang Esa”. Dalam konteks falsafah Jawa dimaknai “Sangkan Paraning Dumadi”.

Mardi + Ika adalah Mardika artinya jalan kelak kembali bersatu pada Tuhan Yang Maha Esa, atau dalam konteks Jawa yaitu jalan menuju paraning dumadi, ya itulah Kepercayaan Jawa akan “Sangkan-Paran”

Indah sekali bukan? Dan tidak aneh bila dalam perjuangan kemerdekaan sering diteriakan merdeka atau Mati yang bermakna sebenarnya sama, bahwa Merdeka = Mati menuju “Bali Menyang Sangkan Paran” atau “bali menyang mula mula nira”. Jadi kata “Mardika” artinya sangat dalam yaitu “Jalan menuju kepada Hyang Tunggal atau Tuhan Yang Maha Esa” atau “jalan menuju bali menyang-sangkan paran”.

Setiap kali memekikkan salam "Merdeka" diharapkan manusia ingat atau “Eling” pada “Gusti” atau Tuhan Yang Maha Esa. Dan "Eling" pada akhirnya pasti akan meninggal dunia atau “merdeka abadi” atau “Bali Menyang Sangkan Paraning Dumadi”.

Lima jari yang terbentang, juga melambangkan Panca Sila sekaligus filosofi ‘Eling’ telah sampai dimana tahapan proses kehidupan manusia yang memekikan “Merdeka” karena sepanjang hidup manusia, dari lahir sampai mati secara normal melalui lima tahapan perjuangan “Merdeka”. Masing-masing tahap “Merdeka” itu dapat dijelaskan sebagai berikut :

-1. Merdeka Tahap I bayi keluar dari Goa Garba atau kandungan-perut ibu. Bayi yang dikandung seorang ibu tidak selamanya ingin tinggal dalam perut, selama sembilan bulan sepuluh hari ia telah tumbuh dan berkembang sehingga ketika tiba saatnya untuk lahir, bayi tersebut meronta dan berusaha memapankan posisinya agar dapat keluar dengan lancar. Ketika bayi itu dapat keluar dengan selamat dan menghirup napas menangislah keras-keras, lahirlah seorang manusia baru. Ia telah “Merdeka”, dari kehidupan yang sangat terbatas di dalam perut, berubah menjadi hidup bebas di dunia arcapada yang luas.

-2. Merdeka Tahap II adalah merdeka lepas dari beban orang tua. Si bayi mulai tumbuh menjadi anak-anak lalu masuk sekolah dari TK, SD, SMP, SMU mungkin sampai Universitas, masih menjadi tanggung-jawab orang tua. Bahkan ketika sudah bekerjapun sebenarnya belumlah dapat dikatakan “MERDEKA” apabila masih mendapatkan subsidi dari orang tua. Barulah ketika mampu mandiri 100% dapat dikatakan merdeka tahap II bisanya diikuti dengan menikah untuk membentuk keluarga baru.

-3. Merdeka Tahap III adalah Keluarga baru mempunyai keturunan atau anak, ia akan mengentaskan satu demi satu anaknya. Orang tua yang belum mampu menuntaskan anaknya dalam arti menikahkan semua putra-putrinya belumlah dapat dikatakan dapat dikatakan merdeka tahap III. Para Warga penganut kepercayaan bayangkan saja bila ada orang tua yang suka kawin-mawin apakah bisa merdeka tahap ini.

-4. Merdeka Tahap IV adalah Setelah melihat anak-anaknya mentas semua, sebagai manusia pasti mengalami proses alamiah yaitu tua meninggalkan tugas rutin duniawi artinya berhenti dari apapun profesi yang dilakoninya atau istilahnya purna tugas duniawi “Lengser” dan pensiun. Dalam masa ini kita membebaskan diri dari pekerjaan rutin duniawi yang membelenggu hidup selama ini. Sebagai gantinya kita mempersiapkan diri untuk kembali ke “Sangkan Paraning Dumadi”

-5. Merdeka Tahap V adalah mampu kembali dengan tenang ke haribaan Tuhan Yang Maha Esa atau istilah jawanya “Bali Mula-Mulanira Atau Bali Menyang Sangkan Paraning Dumadi”.

Apakah warga penganut kercayaan Nusantara-Jawa masih ragu mempergunakannya? Bagi warga penganut kepercayaan yang masih ngotot, berkukuh dengan salam “Rahayu”, “Waras” ataupun lainnya yang katanya khas Jawa itu?

Secara khusus saya menghimbau agar bersatu dan tidak perlu ragu lagi mempergunakannya salam Merdeka yang telah dimaklumatkan oleh sang Proklamator. Salam Merdeka juga bukan merupakan asosiasi dari suku, agama, ras, partai, golongan tertentu namun adalah Salam Nasional Bangsa Indonesia.

Mari kita budayakan di Kota Tegal, mulai dari kita, kalau bertemu dengan sesama kader partai maupun orang lain, sampaikan salam - Assalamu'alaikum - Merdeka..!

(H. Edi Suripno, SH, MH adalah Ketua DPRD Kota Tegal, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Tegal, Jawa Tengah)



 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita