Selasa, 18/07/2017, 08:59:26
Hebat, Suami Istri Dapat Penghargaan dari Menteri
Laporan SL Gaharu

Sismiyati (kanan) dengan piagam penghargaan foto bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Foto: Dok)

PanturaNews (Tegal) - Tidak gampang mengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sakila Kerti yang terletak di komplek Terminal Kota Tegal, Jawa Tengah, dimana tujuannya membuat warga terminal seperti para pedagang asongan dan kru bus gemar membaca. Tapi berkat pengelolanya yang kreatif dan sabar serta telaten, TBM Sakila Kerti mampu bertahan tujuh tahun lebih dan tetap eksis hingga sekarang, bahkan berpretasi.

Adalah Sismiyati, SSi.M.MPd, seorang pendididik di SMP Negeri 5 Kota Tegal. Setelah mengabdikan diri menjadi guru, Sismiyati juga mengabdikan di masyarakat dengan mendirikan TBM Sakila Kerti di Terminal bus Tegal bersama suaminya, Dr Yusqon.

Sebagai ibu rumah tangga, Sismiyati harus pintar membagi waktu. Pagi, tentu saja kewajiban seorang istri dan ibu, adalah menyiapkan segala keperluan suami dan anak-anaknya. Siangpun begitu, dan sorenya harus berkecimpung dengan anak-anak balita di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang juga dia kelola, dilanjutkan ke terminal menyambangi para pengasong yang aktif di TBM Sakila Kerti.

“Alhamdulillah, apa yang saya lakukan selama tujuh tahun lebih bisa bermanfaat buat orang banyak,” ujar Sismiyati ketika ditemui di kediamanya, Senin 17 Juli 2017 kemarin.

Kerja keras yang dilakukan selama ini, membuahkan hasil yang membanggakan. Betapa tidak, Sismiyati menorehkan pretasi tingkat Nasional. Istri Dr. Yusqon yang bersama-sama mengelola TBM Sakila Kerti, menerima penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, sebagai Juara III Nasional Lomba Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (GTK PAUD dan Dikmas) Berprestasi 2017.

Lomba diadakan di Bengkulu pada 9 hingga 15 Juli 2017. Sismiyati menampilkan karya terbaiknya best practice pengelola TBM dengan judul Strategi Implementasi pengelola berkelanjutan dengan upaya membangun kepercayaan masyarakat gamar membaca. Karyanya itu dipresentasikan di hadapan 3 dewan juri yakni Prof Aceng dari STKIP Bandung, Dr. Sudaryanto dari LSK dan Dr.  Sri Koeswantono.

Penghargaan serupa juga diterima suami Sismiyati yang sama-sama mengelola TBM Sakila Kerti, Dr. Yusqon. Buah kerja kerasnya, pada tahun 2012 menerima penghargaan dari Menteri Pendidikan Nasional, sebagai TBM Kreatif Rekreatif Tingkat Nasional di Palangkaraya, Kalimantan.

“Kami bersama-sama mengabdikan diri untuk kebaikan masyarakat agar gemar membaca. Kami bersama mengajak masyarakat dari kelas bawah untuk belajar dan belajar, meski mereka sudah tua,” ujar Dr Yusqon.

Dari perjalanan TBM Sakila Kerti hingga sekarang, banyak sekali hasil yang ditoreh. Anak-anak dan orang tua pedagang asongan di terminal bus, aktif menjadi anggota TBM Sakila Kerti. Dari mereka yang buta huruf, tak sedikit yang bisa membaca. Ada pula hal yang mencengangkan, pedagang asongan mampu pula membaca puisi, bahkan menciptakan puisi.

“Dengan kerja keras, kami bisa menanamkan kepercayaan diri kepada mereka yang tadinya hanya beraktifitas naik turun bus. Mereka berani dan percaya diri tampil dihadapan banyak orang,” tutur Sismiyati.

Satu hal lagi yang membuat Sismiyati dan Yusqon bangga, ibu-ibu dan remaja yang setiap harinya mengasong, kini aktif mengaji dan belajar membaca Al Quran. Hanya beberapa bulan berjalan, sudah banyak para pengasong yang sidah pandai membaca Al Quran.

“Pelaksanaan program mengaji ini, kami kerja sama dengan Kementrian Agama (Kemenag) Kota Tegal. Ternyata yang punya kemauan untuk belajar membaca Al Quran sangat banyak. Tidak hanya yang muda-muda, yang tua bahkan yang sudah nenek-nenek pun punya keinginan lancar membaca Al Quran. Setelah saya tanya-tanya, ternyata mereka punya prinsip bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar, apalagi belajar agama,” ungkap Dr Yusqon.

Bahkan melihat kenyataan aktivitas para pengasong belajar membaca Al Quran, Kepala Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kota Tegal, Ahmad Farhan, punya gagasan mendirikan Pesantren Terminal di Terminal Kota Tegal.

“Belajar tidak hanya di sekolah. Belajar bisa dimana saja. Keberadaan TBM Sakila Kerti menjawab bahwa belajar bisa dimana saja, dan berapapun usianya,” ungkap Sismiyati.

Mengajak para pengasong untuk gemar membaca adalah pekerjaan berat. Namun karena kegigihan para pengelola, TBM Sakila Kerti mampu menjadi kebutuhan mereka untuk belajar. Semoga semakin besar dan terus mengukir prestasi untuk kemaslahatan banyak orang.



 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita