Minggu, 27/08/2017, 01:48:34
Kritik Film: Turah Potret Kemiskinan Kota Tegal
Oleh: Lutfi AN

Paradoksal kehidupan perkotaan nampaknya sebuah tematik yang masih menarik untuk diangkat dalam cerita pendek, novel maupun film. Film layar lebar “Turah” besetan wong Tegal, Wisnu Wicaksono, yang sempat mendapatkan penghargaan di negeri Jiran Malaysia sebagai film kreatif; otokritik sekaligus potret kemiskinan Kota Tegal, berlatar konflik sosial masyarakat penghuni tanah timbul atawa tanah tak bertuan dampak penyusutan air laut yang ditemukan tahun 2000-an, di Kelurahan Muarareja Kec. Tegal Barat Kota Tega, relatif apik dan seksi untuk ditonton.

Film berdurasi 82 menit ini layak diacungi jempol sebagai karya wong Tegal karena hampir pemain, sutradara dan penulis skenarionya adalah wong Tegal. Di tengah miskinnya karya film nasional, “Turah” hadir mencairkan kebekuan kreatifitas anak muda yang selama ini ditunggu publik. Kalau saja banyak kepongahan dalam film ini bisa menjadi mahfum ketika seluruh peralatan shooting, setting maupun lighting sangat minimalis.

Ide cerita nampaknya lebih memilih linier natural realis yang mengajak penonton untuk terjebak kepada kisah nyata bahwa tanah timbul yang kemudian diberi nama Kampung Tirang itu bukan fiktif. Sehingga wajar penonton yang datang dari Kota/ Kabupaten Tegal maupun Brebes dan Pemalang, pasca menonton “Turah” di Cinema Gajahmada Tegal, mereka berduyun-duyun merangksek ke lokasi shooting yakni Kampung Tirang.

Seakan mereka tidak percaya prikehidupan Kota Tegal dengan pajak penerangan jalan umum (PPJU) dari Rp 750 juta dan kini pemerintahan Siti Masyita menjadi Rp 10 miliar pertahun, masih terlihat masyarakatnya tidak terlayani penerangan listrik Negara. Bahkan film yang mengandalkan keaktoran basa Tegal ini banyak didominasi dengan pencahayaan gelap seperti lampu ceplik/ sentir yang tak lain sebagai potret masyarakat terbelakang dan underdog.

Sebagai film yang utuh sudah berhasil untuk dinikmati namun ide cerita yang berujung dengan maut seringkali memampatkan kreatifitas penonton. Menurut hemat penulis, pertama; ketokohan Jadag sebagai pemeran antagonis, vokalalis dan pemberani tidak harus “the end” dengan cara “mati/dibunuh” sebagai ending cerita.

Hal ini menunjukkan penulis cerita kurang sabar dalam mengakhiri cerita film yang mampu membuat penonton bertanya-tanya. Mengapa tidak, misalnya—Jadag dikabarkan miyang (melaut) dan hilang di lautan. Mainstream orde baru masih memawarnai pola pikir penulis naskah bahwa orang-orang seperti Wiji Thukul atawa Jadag akan mengakhiri hidupnya dengan tragis baik oleh dirinya sendiri maupun oleh sebuah sistem politik.

Kedua, logika yang digunakan penulis naskah untuk mengatakan eksploatasi atas manusia di tanah timbul Tirang sudah tergarap dengan apik oleh pemeran Juragan Darso dan Pakel. Kendati pun akan lebih menarik lagi jika kedua tokoh ini dipertegas sebagai perilaku politisi yang suka membagi-bagikan uang dengan bungkus sodaqoh sehingga serasa Turah sebagai film kontekstual di jamannya. Ketiga, soal basa Tegal sing mleketaket (kental). Tentu karena para aktornya wong Tegal ekspresi dengan aksen tegalan sudah pas tur asyik ditonton.

Hanya satu yang mengganggu telinga penonton ketika Kantili memanggil Turah, suaminya dengan kata “Mas…” tiba-tiba film ini berubah latar belakang. Feodal priyayi serasa hadir pada kelas sosial masyarakat bawah. Ambivalensi sikap penggarapan film ini dinilai kurang konsisten. Sesuai sosio cultural pesisir Tegal sapaan “Mas” lebih original diganti dengan kata “Kang”.

(Lutfi AN adalah wartawan senior, seniman dan pengamat social budaya, tingga di Kota Tegal, Jawa Tengah)



 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita