Sabtu, 02/09/2017, 07:43:57
Tuhan Membayar Dengan Mahal dan Tunai
Oleh: Lanang Setiawan

AKHIRNYA Walikota Tegal Siti Masitha tumbang. Tragis dan mengejutkan. Tragis karena sebelum 5 tahun jabatannya sebagai Walikota purna, ia keciduk KPK.  Aku jadi teringat pada dua baris kalimat  sakti mantan Walikota Tegal Ikmal Jaya berujar : "Menang tidak berarti mulia. Kalah tidak berarti hina". Dua larik kalimat ini dimuntahkan olehnya lsudah dirinya terkalahkan oleh Siti Masitha dalam Kodrahkada tahun 2013.

MENGEJUTKAN yang aku maksudkan adalah karena kejadiaannya diluar perkiraan. Selama ini para nonjober hanya berharap, Siti Masitha berbesar hati mau mengembalikan jabatan mereka pada posisi semula senyampan PTUN mereka atas Siti Masitha sudah mendapatkan keputusan hukum tetap atau incrah, namun Walikota Tegal Siti Masitha tetap mbandel pada  keputusan hukum. Ia terus mengembangkan  tabiat arogansinya sebagai penguasa paling angas.

Akibatnya para nonjnber berjumlah 9 orang gigit jari dan  kedholiman Siti Masitha memperpanjang duka lara mereka. Doa dan permohonan mereka dalam munajad pada Tuhan semakin menjadi-jadi. Tumpahan air mata. Kenestapaan mereka menggumpal dan hampir tak mampu lagi mereka berbuat. Bahkan diam-diam mereka putus asa. Pada puncak ketakberdayaan, mereka,

 dikejutan berita luar biasa. Tuhan  membayar mahal doa dan kepriyatinan mereka.

Hari Selasa 29 Agstus 2017, kabar Siti Masitha ketangkap OTT oleh KPK merebak. Pecahlah tangis seketika. Tanpa disadari airmata mereka meleleh. Sujud syukur melepas ke hadirat Allah Yang Maha Mendengar. Luapan kegembiraan merebak ke seantero jagad Kota Tegal. Rakyat terhentak. Para pejuang, aktivis, dan HMI bersorak mendengar berita menggembirakan Siti Masitha keciduk KPK pada hari Selasa sore, 29 Agustus 2017.

Dalam keterkejutan, aku teringat sajak-sajak yang aku tulis dalam basa tegalan. Aku buka netbook dan membaca ulang puisiku. Di sana aku temukan puisi bertajuk SELASA NAAS.

Gliyak-gliyuk jogédmu lembék//léar-léor lambéan tanganmu kaya mambang//

ndondomi nyawa sing pada bedah nang kana-kéné//Malem nggelinjang ngulét//rengeng-rengeng kaprungu sayat tangis//kaya tangisé wong wedi mati//nggares ning kulung ati

Sanalika buminé ndrodog//alam suwung sungil//hawa anyep kaya ketekan arwah-arwah//leluhur gaibmu sing ngendon nang pejaratan//Mbah Pengging//Kawiwit tarianmu tumaninah//lembut lirih ambekanmu ngemu paneluh

Serentak kahanan ganjil, binal, liar dén kabongan//digebér gamelan kidung kepatén//Sedakep ngatunggal nyong tiwikromo//madep mantep mring Moho Kowoso//maténi babakan enem perkara:

nutup mata//nutup bolongan kuping//nutup bolongan cungur//nutup bolongan cangkem//nutup bolongan silit//nutup bolongan celék//Suwara gamelan nggalik-nggalik//ngrintih ning telaga getih ngemu nanah//wisma panguwasa rubuh

Lamat-lamat gobogé nyong krungu//mantra jala sutra kegawa angin kesumat//“Niat ingsun maték aji//ajiku jala sutra tak larung ing//segara jin lan sak panunggalé//sopo sejo olo karo aku//diracut dening kang Moho Kuwoso//yaa Allah yaa Muhammad Rosulullah....”

Suwara gamelan sangsaya nggegiris//dipapag kidung lara tangis//nggedor pertapaan para brekasakan//Selaksa anak panah kebek wisa mlesat//tinuju wisma penguwasa laknat//Sajero wengi kang ngebul aroma jahat//gobogé enyong kaprungu sesambat//wong sekarat

Saklendaban mbak tralap gambar nang mripat//wong wadon setengah kumat//muntah getih kuwat-kuwat//Sanalika kahanan gawat//junjungan wisma agung ngglétak//usus modol-modol sajeroné getih//mambrah-mambrah//Bengi kuwé ndadak sumebar//warta lelayu//nang kotané enyong kepatén//panguwasa angkara

Saiki nyong ngerti//wong wadon sing sawengi dur//nari nang pentas Selasa naas//ora liya wong sing nandang lelara//daning panguwasa kota//Saiki walas ukum!

SAJAK itu aku tulis pada Minggu Kliwon, 19 Februari 2017. Setelah aku baca, seperti sebuah mantra yang penuh gaib, dan misteri. Yang membuat aku heran, pada satu baris tertuang kata "Selasa Naas" yang ternyata bertepatan pada hari penangkapan Siti Masitha oleh KPK pada hari Selasa. Aku jadi merinding membaca ulang sajak itu.

TERNYATA aku temukan juga pada tulisan Haiku://Aji-ajiku/Kasekten jala sutra/Wong ala njungkel//

Haiku bertajuk "Jala Sutra" ini diambil dari kumpulan Haiku Tegalan JALA SUTRA. Aku tulis jauh sebelum Walikota Tegal diciduk KPK di Rumah Dinasnya.

DALAM batok kepalaku kemudian tergambar moment-moment perjuangan saat aku mengikuti demo besar-besaran selama 2 bulan lebih turut priyatin pada kisruh antara walikota dengan ASN Kota Tegal.

Aku teringat pada masa-masa menjadi satu-satu seniman Tegal yang berani turun melakukan demo bersama HMI dan  dihari-hari selanjutnya membadai sebagai pembaca puisi perlawanan melawan penguasa Tegal. Pada suatu hari tepatnya tanggal 27 April 2015 aku dan teman senafasku, membacakan “urat Pengunduran Diri”walikota. Buah dari reka daya tulisan kami yang dibacakan oleh teman senafasku di tengah massa melakukan aksi demo di depan eks Kantor Samsat usai aku melakukan tugas pembaca puisi pada setiap tergelarnya pergolakan ASN melawan penguasa Tegal.

KINI harapan walikota maju dalam Kodrahkada 2018 untuk menduduki kursi singgasana buat kedua kali sebagai Walikota Tegal berpasangan dengan Amir Mirza Hutagalung, kandas sudah senyampang keburu mereka ditangkep KPK pada Selasa sore naas itu. Gusti Allah ternyata tidak tidur. Allah mboten sare. Upaya kami berbulan-bulan dalam perlawanan masif, dibayar mahal dengan kontan! Bukan dibayar Tuhan dengan murah!

TANGIS KITA DIBAYAR TUNAI

Tangis orang-orang teraniaya didengar//doa-doa malam sintru yang  lambungkan sampai//nggrentese orang-orang yang teraniaya terbayar tunai//remuk-redam jiwa-jiwa sanak-kadang terjawab sudah

Hari ini, Selasa 29 Agustus 2017, Allah menyempurnakan firmanNYA: iapa salah bakal seleh. Allahu Akbar!

Sabtu dini hari, 2 September 2017

(Lanang Setiawan adalah tokoh sastra Tegalan, penerima Hadiah Sastra Rancage untuk kategori pengembang bahasa dan sastra Jawa dialek Tegal. Dia telah menerbitkan beberapa buku, novel dan album lagu berbahasa Tegal. Tinggal di Kelurahan Slerok, Kota Tegal)



 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita