Rabu, 27/09/2017, 07:30:57
Membangun Demokrasi yang Tunduk Pada Rakyat
Laporan SL Gaharu

Dr. H. Ferry Juliantono

PanturaNews (Jakarta) - Dulu sebelum reformasi, para aktivis memiliki cita-cita yang sama, yaitu menumbangkan kekuasaan anti demokrasi yang menindas rakyat. Lantas mengambil alih kekuasaan untuk membangun pemerintahan demokratik yang tunduk kepada rakyat.

Demikian diungkapkan salah satu aktivis pergerakan di Jakarta, Djoko Kanigoro dalam bincang-bincang dengan PanturaNews, Selasa 26 September 2017 sore. Menurutnya, cita-cita pertama dalam menumbangkan kekuasaan anti demokrasi yang menindas rakyat, bisa dibilang berhasil dengan tumbangnya kekuasaan Orde Baru (Orba).

“Namun cita-cita kedua untuk membangun pemerintahan demokratik yang tunduk pada rakyat paska tumbangnya orba, belum lah terwujud. Justru kita terjebak dalam lingkaran demokrasi liberal yang tunduk pada kakuatan kapital,” ujar Djoko Kanigoro.

Ditegaskan Djoko Kanigoro yang saat ini dipercaya menjadi Koordinator Tim Sukses Calon Gubernur Jawa Tengah dari Partai Gerindra, Dr. H. Ferry Juliantono, hampir seluruh lini kekuasaan dari tingkat presiden hingga kepala daerah, telah dikuasai oleh kaum modal baik secara langsung maupun tidak langsung.

“Mungkin bagi seorang aktivis pergerakan dan demonstran seperti Ferry Juliantono, agak sedikit memaksakan untuk memasuki arena politik praktis yang bertumpu pada kekuatan modal ini,” tuturnya.

Tapi, lanjutnya, bagi seorang aktivis dan demonstran juga memiliki hak untuk mengambil peran dalam proses politik yang sebenarnya, menjadi tanggungjawabnya ketika cita-cita demokrasi menjadi liar tak terkendali.

“Meski sedikit romantisme, tapi inilah jalan politik yang harus kita tempuh. Kita harus kembali secara tegas mengambil posisi untuk berhadapan dengan kekuatan modal, atau pihak-pihak yang digerakkan oleh modal untuk membinasakan hak politik rakyat,” tutur Djoko Kanigoro.

Lebih lanjut dikatakan, walaupun beberapa aktivis menganggap ini sebuah mimpi, tapi untuk bermimpi pun harus bernyali. Rasanya cukup pas jika kemudian Ferry Juliantono mengharapkan 'Selamat Datang Perubahan'. Baik buat dirinya maupun seluruh rakyat Jawa Tengah.

“Dan saya rasanya juga tidak salah, jika secara langsung mendukung mimpi Ferry, minimal agar dia dalam memperjuangkan cita-cita politk ini tidak sendirian. Yang pasti Ferry sudah cukup jauh dalam menapaki perjuangan ini. Terlepas berhasil atau tidak, yang jelas dia sudah menempatkan posisi politiknya secara benar,” urainya.

Djoko Kanigoro menambahkan, keaktivisan Dr. H. Ferry Juliantono yang juga menjabat Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra ini, sudah tidak diragukan lagi. Ferry lahir di Jakarta pada 27 Juli 1967 lebih dikenal sebagai aktivis yang banyak menyuarakan kepentingan rakyat melalui aksi demonstrasi. Salah satu resiko yang harus dilaluinya sebagai aktivis, adalah mendekam di penjara pada 2008.

Penyebabnya, dia memimpin aksi demonstrasi menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) saat pemerintahan SBY. Ferry mengaku harus membela rakyat ketika kepentingan mereka diganggu dengan kebijakan pemerintah yang memberatkan mereka.

Suami Ir. Sita Komaladewi dan bapak dua putra dari Jodipati Alif Fitrahillah dan Rendrahadi Nezar Musyaffa, banyak terlibat dalam organisasi petani, nelayan, buruh dan agraria. Sejak 2005 sampai sekarang, Ferry dipercaya menjadi ketua umum Pimpinan Pusat Dewan Tani Indonesia. Ia juga masih menjabat sebagai Wakil Direktur Pelaksana Induk Koperasi Tani Nelayan (Inkoptan) sampai sekarang. Ferry tinggal di Pamulang Estate BlokF2/25, Tangerang, Banten.



 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita