Minggu, 08/10/2017, 07:13:18
Kang Nur Berpacu Dengan Waktu
Oleh: Roziqien Manshur Al-Makhaly

DALAM keseharian, orang Tegal sering mengucapkan pernyataan: jare inyong sih, wong urip kuwe ya mung sawang-sinawang. Maksudnya, mempersepsikan sesuatu atas dasar apa yang nampak dari luar, dari sisi lahiriyahnya saja.

Mungkin boleh jadi benar, tetapi mungkin boleh jadi persepsi yang akan terbentuk menjadi keliru, meleset, karena hanya melihat dari satu sisi saja. Inilah yang mungkin saja terjadi ketika mencoba membuat sedikit catatan tentang fenomena diri Plt. Walikota Tegal, Drs. H.M. Nursholeh M.M.Pd.

Jam Terbang

Kang Nursholeh atau lebih dipersingkat lagi cukup Kang Nur merupakan panggilan akrab untuk Drs. H.M. Nursholeh M.M.Pd. Kang Nur merupakan sosok yang tengah menjadi trending topic, banyak dibicarakan dan menjadi bahan perbincangan oleh berbagai pihak dan di banyak kesempatan setelah ditunjuk/diangkat sebagai Plt. Walikota Tegal.

Ia, ditakdirkan lahir di Tegal pada 22 Agustus 1957, menyandang nama Nursholeh pemberian yang sekaligus menjadi doa dari orangtuanya, yang bermakna Nur artinya cahaya dan Sholeh artinya kebaikan, diharapkan orangtuanya kelak menjadi cahaya kebaikan. Ia  mengenyam pendidikan dasar sampai jadi sarjana di kota sendiri, dan memperoleh gelar Magister di bidang manajemen pendidikan di Jakarta.

Ia terjun menekuni dunia politik sejak usia muda, merangkak dari bawah, jauh hari sebelum memasuki era reformasi. Berawal dari Komdes tingkat desa, naik ke tingkat Kecamatan, sampai menduduki posisi sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kota Tegal untuk periode 2009-2015. Ia menjadi politikus dengan debut jam terbang yang panjang, jauh dari image politikus dadakan dan bukan pula politikus karbitan. Di samping menekuni dunia politik, ia juga bergiat di bidang profesi lain, seperti konsultan perencana, surveyor dan direktur perusahaan.

Fait Accompli

Tahun 2013 tercatat sebagai momentum bersejarah bagi warga masyarakat kota Tegal sebagai tahun diselenggarakannya kegiatan Pilwalkot/Wawalkot untuk periode masa jabatan 2014-2019. Lazimnya, proses rekruitmen pemimpin daerah diharapkan bersifat bottom up, termasuk juga rekruitmen Walikota/Wakil Walikota Tegal.

Dimulai dari usulan aspirasi dari DPD Partai Kota Tegal lanjut ke DPD Partai Jawa Tengah, lanjut ke DPP Partai, turun menjadi rekomendasi. Kala itu, yang terjadi adalah sebuah anomali. Nampaknya tanpa usulan dari bawah, rekomendasi langsung diterbitkan oleh DPP Partai Golkar, kepada Siti Mashita untuk menjadi calon Walikota Tegal, sehingga mem-fait accompli pihak DPD Partai Golkar Jawa Tengah dan DPD Partai Golkar Kota Tegal untuk mengambil prakarsa mengamankannya.

Boleh jadi tanpa hasil survei sebagai bahan pertimbangan, untuk menggenapi pasangan calon, demi menghormati shohibul bait/tuan rumah dan fatsoen politik, maka ditetapkanlah Ketua DPD Partai Golkar Kota Tegal, Drs. H.M. Nursholeh sebagai calon Wakil Walikota Tegal, mendampingi Siti Mashita yang diposisikan sebagai calon Walikota Tegal. Pasangan calon (paslon) hasil kawin paksa ini kemudian disepakati sebagai usungan Partai Golkar untuk dimajukan dalam pertarungan Pilwalkot/Wawalkot Tegal, yang kegiatan pemungutan suaranya dihelat pada 27 Oktober 2013 lalu.

Roda Kehidupan

Memang, mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, begitulah kata pepatah. Inilah roda kehidupan yang nyata. Pasangan calon (paslon) Siti Mashita sebagai calon Walikota dan Drs. H.M. Nursholeh M.M.Pd. sebagai calon Wakil Walikota yang diusung Partai Golkar, dengan nomor urut 3, yang dari awalnya sudah terasakan sebagai suatu anomali, sebagai produk dari semi kawin paksa, beruntung berhasil menang dalam ajang laga Pilwalkot/Wawalkot Tegal Tahun 2013 dengan kemenangan telak perolehan suara sebanyak 45,23%.

Bandingkanlah, dengan paslon nomor urut 1, Ikmal Jaya dan Edy Suripno, masing-masing petahana Walikota dan Ketua DPRD Kota Tegal, yang hasil perolehan suaranya 30,47%. Selisihnya mencapai 15%.

Setelah dinyatakan menang, pasangan Siti Mashita dan Drs. H.M. Nursholeh dilantik pada 23 Maret 2014 sebagai Walikota dan Wakil Walikota Tegal. Pelantikan usai, musim euforia kemenangan tak berumur panjang, lalu berganti menjadi mendung yang berkepanjangan. Entah apa penyebabnya, terjadi konflik antara Walikota dengan Wakilnya. Wakil Walikota dilucuti tupoksinya, dipinggirkan, juga di -persona non grata- oleh Walikota. Konflik yang ternyata berdampak luas.

Blessing In Disguise

Kang Nur harus menanggung beban penderitaan dan beban perasaan batinnya, dalam kurun waktu cukup lama. Ini sungguh luar biasa! Kemampuan bertahan yang patut diapresiasi. Bayangkan, sekitar rentang waktu 3 tahun 5 bulan (sejak dilantik 23 Maret 2014 sampai akhir Agustus 2017) Kang Nur sebagai Wakil Walikota hanya sebatas melaksanakan tugas-tugas pinggiran saja.

Hanya karena takdir Tuhan, pada 29 Agustus 2017 Walikota Tegal Siti Mashita dicokok oleh satgas KPK karena diduga terindikasi tindak pidana korupsi. Inilah roda kehidupan yang bekerja atas titah Yang Maha Kuasa, kemudian menurunkan belas kasihNya. Pada 31 Agustus 2017, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menunjuk/mengangkat Kang Nur sebagai Plt. Walikota Tegal.

Inilah blessing in disguise, atau rahmat/karuniaNya yang tersamar, yang terselimuti tapi nyata benar adanya. Dalam pada itu, tugas yang menggunung sudah menanti untuk diselesaikan oleh Kang Nur dengan posisi yang baru selaku Plt. Walikota Tegal, yang kuasa kewenangannya sama dengan Walikota definitif. Seakan ingin diingatkan betapa kedudukan akan berbanding sama dengan tanggung jawab yang harus dipikul. Atau dengan kata lain, sebagaimana rahmat/karunia, juga ada intaian bencana, sebut saja seperti ibarat pisau yang bermata dua.

Bekerja Efektif

Jika dihitung sejak dilantik 23 Maret 2014 sampai dengan ditunjuk menjadi Plt. Walikota Tegal 31 Agustus 2017, ada rentang waktu sekitar 3 tahun 5 bulan. Dihitung sampai akhir periode masa baktinya nanti pada 23 Maret 2019, masih ada waktu sekitar 1 tahun 7 bulan lagi. Inilah waktu yang masih tersedia untuk Kang Nur berkhidmat kepada masyarakat, memenuhi apa yang menjadi beban amanat tanggungjawabnya.

Tentu akan menjadi lain lagi, jika Kang Nur bermaksud untuk maju mendaftar jadi bakal calon Walikota Tegal periode masa bhakti berikutnya. Kini sudah Oktober 2017, jika penyelenggaraan Pilwalkot/Wawalkot Tegal diperkirakan pada akhir Juni 2018, waktunya tinggal 9 bulan lagi, maka waktu Kang Nur bekerja efektif tinggal 6 bulan, karena harus cuti 3 bulan sebelum pelaksanaan. Nanti jika pelaksanaannya usai, Kang Nur dapat menduduki posisinya kembali, sampai masa jabatannya selesai.

Jika opsi kedua yang jadi pilihan, sebagaimana yang ramai diberitakan oleh media, maka beban kerja Kang Nur akan menjadi berlipat. Di satu sisi bekerja dalam memenuhi tanggungjawab Plt. Walikota Tegal, di sisi lain juga harus kerja keras untuk kesuksesan pencalonannya sebagai Walikota Tegal periode berikutnya. Tentu hal ini menjadi pertaruhan yang berat bagi Kang Nur.

Jika Seandainya

Uraian di atas hanya ingin mengingatkan, betapa Kang Nur hanya memiliki waktu yang relatif sangat pendek untuk berkhidmat, memenuhi harapan rakyat dan warga masyarakat.

Kang Nur betul-betul berpacu dengan waktu. Jika seandainya dalam 6 bulan ke depan, kerja keras dengan skala prioritas berdasar petunjuk Gubernur, Kemendagri, KASN, BKD Provinsi Jateng, juga bekerja menjalankan program yang sudah dirumuskan di tingkat Pemkot Tegal dengan sebaik-baiknya, diharapkan dapat menjadi modal sosial yang nantinya memberikan insentif elektoral kepada Kang Nur di ajang laga kontestasi Pilwalkot/Wawalkot Tegal yang akan datang.

Jika seandainya nanti cuti 3 bulan sebelum saat pelaksanaan, bersama Tim Suksesnya diharapkan mampu secara full speed bergerak menggalang dukungan pemenangan untuk Kang Nur. Selain itu, sosok yang digadang menjadi calon Wakil Walikota mendampingi Kang Nur juga diharapkan dapat menambah/memperkuat soliditas dukungan pemenangan.

Jika seandainya semua harapan yang disebutkan di atas dapat diwujudkan dengan baik, maka harapan untuk memenangkan Kang Nur di ajang Pilwalkot/Wawalkot Tegal 2018 yang akan datang, dengan idzin Allah SWT niscaya akan dapat direalisasikan. Amien Ya Robbal 'Alamien.

(Penulis adalah peminat masalah sosial, budaya, kemasyarakatan dan pecinta kota Tegal dengan penuh keceriaan)



 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita