Rabu, 01/11/2017, 02:04:06
Pemuda Menentukan Bahasa Menemukan Bangsa
Oleh: Mika Prastama

“Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri” (Pramoedya Ananta Toer)

Perkembangan Kapitalisme – cetak dan bekembangnya lingua franca (bahasa bersama) bumiputra yang menghubungkan antar pulau di Hindia Belanda. melatarbelakangi munculnya “bahasa” dimulai dari bahasa melayu yang berkembang di Semenanjung Melayu Sumatera dan Kalimantan, ia berkembang terus, nyaris tanpa gangguan menuju bentuk akhirnya, yaitu Bahasa Indonesia.

Lebih lanjut kerap ditambahkan bahwa Bahasa Indonesia inilah yang menjadi alat perjuangan yang sangat penting bagi bangsa Indonesia, karena dengan begitu dapat enghubungkan banyak entitas kesukuan dalam masyarakat dibawah satu nama, Indonesia. Dengan menolak menggunakan bahasa Belanda, kaum nasionalis Indonesia berhasil membentuk sosok lain yang tidak memiliki legitimasi apa pun untuk berkuasa di negeri asing yang jauh dari tempat asal. Ini adalah tonggak penting yang mewarnai sejarah pergerakan antikolonial di Indonesia.

Fase ini menjadi petunjuk tentang arah pergerakan antikolonial yang jauh lebih matang memasuki dekade akhir kolonialisme Belanda di Indonesia. Pandangan bahwa “Bangsa” Indonesia yang dibicarakan saat itu sudah ada sejak waktu yang lama. Sering dikatakan bahwa bangsa, dimulai sejak masa keemasannya Majapahit dan Sriwijaya, dan kembali menemukan kembali bentuknya di Abad 20.

Begitu pula dengan kehadiran Bahasa Indonesia yang sekalipun coba digagalkan kekuasaan kolonilal tetap bertahan dan kemudian muncul dengan nama baru “Bahasa Indonesia, dengan begitu berjalan bersamaan melintasi ruang dan waktu bertemu pada tanggal 28 Oktober 1928.

Sedikit menengok sejarah yang melatar belakangi pergerakan kaum muda Hindia, sejak akhir abad XIX Hindia Belanda mengalami perubahan dalam banyak bidang kehidupan. Pemilik modal swasta mulai meluaskan kegiatan ekonomi yang memerlukan pengembangan infrastruktur, seperti jalan –jalan, kereta api, komunikasi dan sebagainya dan Negara Kolonial sebagai pelindungnya.

Angka-angka ekspor bertambah dua kali lipat dalam dekade pertama abad 20 dan lebih dari delapan kali lipat pada tahun 1920. Kesemuanya itu adalah bagian–bagian dari aktivitas negara. Menyadari kebutuhan-kebutuhan baru yang timbul dari aktivitas negara ini, mereka yang bekerja dalam kegiatan negara ini bergabung dengan pegawai administrasi bumiputra dimulai dari Pangreh Praja dan orang Particulier yakni pekerja kantoran pada perusahaan swasta.

Negara dan pemilik modal swasta secara serius juga memperhatikan kehidupan sosial masyarakat seperti kesehatan dan terutama pendidikan. Perluasan pendidikan gaya barat adalah tanda resmi dari Politik Etis. Pendidikan gaya barat berkembang luas. Pada 1893 dibentuk dua jenis sekolah dasar untuk Bumiputra yakni, Sekolah Bumiputra Angka Satu untuk anak priyayi dan Sekolah Bumiputra Angka Dua untuk anak dari rakyat kebanyakan.

Pengalaman bersama di sekolah terutama memberikan kesempatan bagi mereka untuk membayangkan diri sebagai satu komunitas. Kaum muda membentuk kesadaran “nasional” mereka sebagai bumiputra di Hindia, dan bergerak bersama “bangsa – bangsa” dalam garis waktu yang tidak terhingga menuju modernitas. Mereka juga berbagi pengalaman, gagasan dan asumsi tentang dunia. Sementara waktu "embrio bangsa" ini belum mendapat nama, dan mereka tetap hanya bumiputra dan kaum muda.

Pergerakan nasional yang dipahami dalam historiografi ortodoks dari Indonesia pasca-merdeka adalah perjalanan "embrio bangsa" ini dalam mencari namanya - Indonesia. Akan tetapi, sebelum Indonesia "ditemukan", "embrio bangsa" ini telah hadir dalam pikiran dan gaya kaum muda, dan segera memperoleh alat kelembagaan untuk mengungkapkan kesadaran "nasional" - nya. Alat itu adalah surat kabar bumiputra yang awalnya dikendalikan oleh orang – orang Tionghoa peranakan dan Indo – eropa. Para Priyayi pemerintah dan orang Particuelier dengan cepat melibatkan diri dalam aktivitas ini.

Dengan berkembangnya ide – ide Sosialisme dan masifnya gerakan buruh di Hindia Belanda, sejak 1918 tanah jajahan terus diguncang oleh serangkaian pemogokan dan pertumbuhan serikat-serikat buruh yang makin besar. ISDV sebagai pelopor gagasan sosialisme di Hindia Belanda masih terbatas sebagai lingkaran diskusi sejumlah orang balanda saja. “Bangsa” pada tahap ini dibangunatas dasar pertentangan kelas, diolah menjadi kepentingan “Rakyat” disatu pihak dan “kapitalis” dipihak lain. Konsep tenang bangsa yang tumbuh pada masa itu memang berwatak kerakyatan, dorongan tuntutan ini di satu pihak membentuk intelektua dari kalangan buruh sendiri seperti Semaun.

ltulah kaum muda dan zaman di mana mereka hidup. Hal ini tidak berarti bahwa kaum muda menjadi Barat secara menyeluruh dan terpotong dari gagasan, persepsi, kebiasaan, dan etika tradisional. Mereka sama sekali tidak demikian. Yang penting adalah hal-hal tradisional. kehilangan maknanya yang utuh dan mereka dipaparkan berdampingan dengan hal-hal modern sehingga sesuai dengan gaya modernnya kaum muda dan maknanya pun mengalami perubahan. Persatuan indonesia sebagai teras kebangsaaan Indonesia, maka bahasa Bahasa Indonesia sebagai bahasa persamaan atau bahasa pertemuan menjadi bahasa persatuan.

Dari sini dilihat secara tepat sebagai pernyataan tentang bagaimana menentukan “Bahasa” menemukan “Bangsa”. Oleh sebab begitulah setiap orang pada tahun 1928 siap untuk mengucapkan sang sumpah dengan sembah yang khidmat. Dengan kata lain, bahasa bersamalah yang menumbuhkan nasionalisme. ketimbang  nasionalisme  yang menjadikan terbentuknya suatu bahasa bersma.

Kebangsaan Pemuda Era Milenial

Pemuda punya tempat istimewa dalam narasi sejarah dan politik Indonesia. Sepertinya tidak ada peristiwa penting di negeri ini yang tak melibatkan pemuda, mulai dari pembentukan Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, Revolusi Agustus 1945 sampai mundurnya Suharto sebagai Presiden pada Mei 1998.

Mereka hadir sebagai kekuatan yang berjasa menyelamatkan negeri dari mara bahaya dan mengantar masyarakat ke gerbang kehidupan yang adil dan makmur. Spirit kaum muda sejak awal abad ke 20 lalu kini ditemui dalam berbagai dinamika kaum muda yang berkarya di tengah bangsanya mewujud dalam kolaborasi dan espresi kaum muda.

Dalam bidang politik, muncul gerakan Kawal Pemilu pada Pemilihan Presiden 2014 dan Kawal Pilkada serentak 2015, salah satu kolaborasi kaum muda yang ditunjang kekuatan teknologi digital. Betapapun, publik menilai peran pemuda dalam persoalan kebangsaan masih jauh dari harapan.

Mayoritas publik (70 persen) belum merasakan kiprah kaum muda memajukan masyarakat. Apalagi, ada persoalan besar yang dihadapi pemuda saat ini, yaitu penyalah gunaan Narkba dan Ketersediaan Lapangan pekerjaan. Penyebaran Hoax dan Hate Speech juga sampai pada taraf yang sangat meresahkan. Tercatat 800.000 situs di Indonesia yang terindikasi sebagai penyebar berita palsu dan ujaran kebencian, hal tersebut berdampak pada Degradasi nilai kaum muda sekarang.

Common Enemy kaum muda abad 20 adalah imprealisme dan kolonialisme yang nyata, tantangan generasi muda sekarang dirasa akan lebih sulit, karena belum adanya musuh bersama yang tidak terlihat, jika dibandingkan keduanya. Perubahan konteks sosial yang jauh berbeda dengan kaum muda abad 20. Era kebebasan informasi dan perkembangan teknologi mengubah pola interaksi sosial dan relasi kenegaraan. Maka menjaga Kesadaran dan semangat generasi bangsa terus perlu ditumbuhkan untuk menghadirkan generasi milenial yang sehat dan memiliki tujuan.**0**

Referensi: Sutan Takdir Alisjahbana, “The Indonesian Language”, (Vol. XXII, No. 1, 1949), Hilmar Farid, Nasionalisme: Antara Kenangan dan Tindakan, hilmarfarid.com, Benedict Anderson, Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread f nationalism, Benedict Anderson, Kuasa Kata, Jelajah Budaya – Budaya Politik Indonesia. Hal. 409, 420, Baskara T Wardaya, Membangun Republik, Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak, Radikalisme Rakyat di Jawa 1912 – 1926, Andreas Yoga Prasetyo, Jajak Pendapat “Kompas” Wajah Kebangsaan Pemuda milenial. Litbang Kompas.

(Mika Prastama adalah aktivis buruh, pemerhati sosial politik, tinggal di Semarang, Jawa Tengah)



 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita