Senin, 27/11/2017, 08:47:45
Pancasila Rahmat atau Laknat
Oleh: Anisul Fahmi

Seminar atau Diklat bertemakan Pancasila, tak terhitung dan riuh bak layaknya hiruk pikuk pasar tradisional Indonesia. Mulai dari instansi pemerintah sampai institusi agama bersatu padu menyuarakan "NKRI Harga Mati Pancasila Ideologi Negara", namun hasrat gegap gempita tanpa syarat makna seolah agenda seremonial semata.

Komitmen Pemerintah dengan semangat nan bergelora tak dibarengi dengan penghayatan ruh Pancasila menjadi ruang hampa. Tak beda bagaikan wanita cantik jelita tanpa etika. Basis Epistemologi Pancasila luas seluas Indonesia, Ontologi Pancasila kuat Sekuat Garuda, Aksiologi Pancasila Indah se Indah Pulau Nusantara.

Ruh Pancasila tamat seakan kiyamat begitu dahsyat ulah para pejabat pemakan uang rakyat yang katanya sudah adat. makna Pancasila lepas begitu saja ditangan Pemuka Agama tanpa alpa. Etika berbangsa dan beragama tak lagi nyata hanya polesan semata.

Krisis nasionalisme terus menggerus bangsa, negara dirundung konflik hanya soal kepentingan belaka, konflik faham agama selalu hadir ditengah keluarga, pusaran konflik sektarian dan gerakan radikalisme selalu menyapa. Tak kalah tragis gaya hidup anak muda yang hedonis dan apatis.

Pancasila hadir sebagai rahmat bukan laknat Pancasila Humanis tak bengis Pancasila merangkul tak memukul Pancasila mengajak tak mengejek Pancasila mendidik tak menghardik. Peran pemuda sebagai ruh perjuangan bangsa dan Agama harus mampu mengamalkan akan nilai-nilai pancasila. Yakni kemerdekaan, kedaulatan, keadilan,  kecerdasan dan memakmurkan bangsa Indonesia dalam landasan kemerdekaan, merdeka dari rasa takut, merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kebodohan dengan semangat Bhineka Tunggal Ika pemuda mampu berkarya demi terciptanya Indonesia bersama.

Yakin dan optimis makna Pancasila masih kokoh menancap didada Kader Umat dan Bangsa selama Iman Islam dan Ihsan melindungi kita. Sudahi air mata ibu Pertiwi, kita usap dengan senyuman penuh arti melanjutkan misi, ratapan dan tetesan air mata para pejuang bangsa di alam baka, kita ganti dengan semangat kerja nyata sebagai bukti bakti cinta negeri. Cinta Indonesia Cinta akan Bangsa Cinta akan Agama Cinta Akan Ulama.

(Anisul Fahmi dilahirkan di Desa Dumeling, Wanasari, Kabupaten Brebes. Saat ini sedang menempuh Program Pascasarjana UNUSIA Jakarta, Kosentrasi Sejarah Kebudayaan Islam. Anisul juga Ketua Umum KPMDB Jakarta 2015-2016)



 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita