Rabu, 13/12/2017, 10:25:20
Terungkap, Penembakan Karena Dituduh Malak Rokok
Laporan Johari

Saksi yang dihadirkan disumpah untuk dimintai keterangan pada siding di PN Tegal (Foto: Johari)

PanturaNews (Tegal) - Sidang kedua kasus penembakan dengan terdakwa oknum anggota Polri, Brigadir Setya Eka Hari Prascaya di Pengadilan Negeri  (PN) Tegal, Selasa 12 Deseber 2017.

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Depati Herlambang, SH dan Risky Fani Ardiansyah, SH mengahdirkan tujuh orang saksi diantaranya Edi susilo, Edi Purwanto, Nolanjar alias Anjar, Anisa Febriani, Dinda Purnama, Heri Diantara dan M Raizul.

Dihadapan Ketua majelis hakim, Elsa Lina Br Purba, SH, MH didampingi hakim anggota Frans Effendi Manurung, SH, MH, Haklainul Dunggio, SH dan JPU, saksi Edi Susilo yang dihadirkan terlebih dahulu dalam kesaksiananya mengatakan, saat keluar dari Diskotik Zodiak, tepatnya di parkiran sepeda motor  temannya bernama Edi Purwanto, dituduh oleh salah seorang memalak rokok saat di dalam diskotik.

Karuan saja, tuduhan itu dibantah oleh Edi Purwanto karena tidak merasa. Selanjutnya terjadi keributan, kemudian Anjar datang untuk melerai dan menanyakan berapa sih harga rokok. Namun kelompok yang menuduh itu langsung mengeroyok Edi Purwanto dan Anjar. Karena kalah jumlah, Edi Purwanto dan Anjar bonyok.

“Setelah keluar diskotik, tepatnya di parkiran, teman saya Edi Purwanto dituduh malak rokok oleh kelompok lain. Tentu saja teman saya Purwanto mungkir, tapi langsung dijotos. Saya berusaha melerai namun dapat jotosan juga. Kemudian Anjar datang melerai dan menanyakan berapa harga rokok, tapi dikeroyok juga oleh kelompok tersebut, bu hakim," ungkap saksi Edi Susilo.

Lebih lanjut menurut saksi Edi Susilo, saat terjadi keributan itu, tiba-tiba terdengar suara letusan tembakan. Lantas saksi lari keluar hingga jalanan. “Saya dengarnya satu kali, tapi yang nembak siapa saya tidak tahu, karena saya tidak kenal dengan terdakwa,” imbuhnya.  

Menurutnya, saat ia datang ke diskotik berdua dengan  Edi Purwanto. Namun sampai di dalam diskotik bertemu dengan Anjar bersama temannya. “Saya tidak kenal dengan terdakwa Eka, karena dia temannya Anjar, sedangkan teman saya adalah temannya Anjar,” ujarnya. 

Hal yang sama juga diungkapkan oleh saksi Anjar dan saksi-saksi lainnya. Bahkan terdakwa juga tidak keberatan atas ketarangan saksi-saksi. Sidang ditunda Selasa depan dengan agenda masih keterangan saksi-saksi. 

Seperti diberitakan sebelumanya, JPU dalam dakwaan setebal enam halaman, menjerat terdakwa dengan pasal berlapis yakni pasal 338, 351 dan 354 KUHP dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara.




 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita