Senin, 25/12/2017, 11:42:55
Novel Prahara di Pesisir Akhirnya Diluncurkan
LAPORAN SL. GAHARU

Lanang Setiawan dengan nover terbarunya yang sudah diluncurkan (Foto: Gaharu)

PanturaNews (Tegal) - Setelah proses penulisan selama tiga tahun, novel baru karya Lanang Setiawan; Prahara di Pesisir akhirnya rampung, dan diluncurkan. Novel yang diterbitkan Media Tegal Tegal, penjualan ke luar kota dilakukan lewat media social (Medsos).

“Novel ini menjadi penting untuk pelajar Tegal dan daerah sekitarnya, karena banyak menyikapi sejarah Kota Tegal dan Kabupaten Tegal,” ujar Lanang Setiawan dengan bangga, Senin 25 Desember 2017.

Menurutnya, pemesan novel ini dari kalangan akademisi, seniman dan masyarakat umum. Ada dosen UI, dosen Undip Semarang, dosen Wijaya Kusuma Surabaya, dan seniman-seniman luar pulau Jawa.

Lanang menuturkan, bahwa novelnya kali ini menuangkan begroun sejarah tentang pergolakan di Tegal dan sekitarnya. Kata Lanang, wilayah pesisir Tegal tak pernah sepi dari hiruk-pikuk. Sejak revolusi fisik Peristiwa Tiga Daerah tahun 1945-1947, suasana pembantaian pada pangreh praja terjadi di daerah Talang. Jagal jalanan mewabah di sekitar Brug Abang. Pada saat itu wilayah Tegal bau amis darah. Mulad-mulad kekacauan tak terpredisikan. Tegal tak pernah tidur nyenyak.

“Warwer pergolakan silih berganti. Pada era reformasi bergulir, pesisir Tegal kembali kisruh. Reformis bergerak menuntut dua penguasa di Kota dan Kabupaten Tegal, turun dari jabatan. Akhirnya mereka terkapar. Tumbang,” urai Lanang.

Lebih jauh diuraikan, saat itu Tegal terus bergolak. Daerah pesisir pantai utara ini tak sanggup memicingkan mata buat bermimpi indah. Prahara berkibar-kibar di angkasa. Kisruh meletus lagi, walau skalanya kecil namun cukup membikin pusing. Kali ini menyoal tentang keabsahan “Hari Jadi Kota Tegal”.

Percikan kisruh lantaran adanya pengakuan mantan anggota dewan periode 1971-1997. Dalam sebuah acara peluncuran buku cergam “Ki Gede Sebayu”, Minggu (1/4/2007) di Pendopo Ki Gede Sebayu Kota Tegal, ia mengatakan bahwa, penetapan “Hari Jadi Kota Tegal” yang digeber setiap tanggal 12 April berdasarkan pelantikan walikota. Sedang pengambilan bulan April berdasarkan jumlah fraksi sebanyak 4 fraksi (Nirmala Post, Selasa 3 April 2007).

“Pengakuan mantan anggota dewan itu cukup menohok banyak pihak. Sejumlah anggota dewan mengaku kecewa dengan penentuan hari jadi tersebut, sampai mereka mogok mengikuti semua acara yang berkaitan dengan perayaan hari jadi. Tidak hanya mereka, para seniman pun turut mencak-mencak. Mereka menggelar pementasan Parodi Sebayu Gugat, Ontran-ontran Hari Jadi,” ungkapnya.       

Ontran-ontran yang baru-baru ini terjadi, ujar Lalang, adalah meletusnya aksi ASN dan para demonstran melawan Sang Penguasa Tegal. Berbulan-bulan mereka merangsek ngedap-ngedapi. Korban jabatan dan pangkat bawahan berjatuhan. Tapi ujung dari perlawanan, Sang Penguasa terjungkal. Lengser sebelum masa jabatannya berakhir.

“Tiga Penguasa di wilayah pesisir Tegal bergelimpangan dengan tragis,” tandas dia.

Tentu, ini menjadi peringatan keras bagi para calon pemimpin yang bakal jumeneng di daerah Tegal. Agaknya tlatah Tegal memiliki “kewibawaan” tersendiri. Tegal bukan daerah main-main. Siapa pun yang akan menjadi penguasa Tegal, berlakulan adil, punya adab dan sopan-santun terhadap rakyat. Jangan sembarangan barbar dengan kekuasaan. Pasti nggléwang!

Tokoh dalam novel ini, adalah cewek bule bernama Leonora Gendis Magdalena, keronto-ronto datang jauh-jauh dari Negeri Belanda melakukan penelitian tentang kekisruhan di wilayah Pesisir Tegal. Mengapa di wilayah ini selalu saja gemladag (bergolak) dengan pergerakan sosial? Simak novel historis “Prahara di Pesisir” karya Lanang Setiawan.




 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita