Senin, 01/01/2018, 03:46:14
Fenomena Nandur Bawang Tukulé Utang
Oleh: Novita Fauziyah, S.Pd

APA yang ada di benak pembaca ketika mendengar Brebes? Salah satu kabupaten di Jawa Tengah ini, terkenal karena produksi bawang merah dan telur asinnya. Hampir di setiap sudut kota tak pernah absen dengan kehadiran kedua komoditas lokal tersebut.

Berbagai moment juga tidak pernah ketinggalan dengan hadirnya kedua primadona Brebes tersebut. Kehadiran bawang merah di Brebes seakan tak pernah mengenal waktu. Ia selalu ada setia hadir untuk memenuhi kebutuhan warga, tak hanya lokal namun juga nasional.

Brebes menjadi salah satu sentra produksi bawang merah di Indonesia. Luas panen bawang merah tahun 2014 di Kabupaten Brebes sebanyak 30.954 ha, dengan rata-rata produksi sebesar 121,46 kuintal/ha (Brebes Dalam Angka 2015).

Dengan produksi sebesar itu, tentu membutuhkan perjuangan yang luar biasa dari para petani di lapangan. Suka duka yang dialami dari mulai persiapan sampai dengan penjualan hasil panen bawang merah. Menjelang akhir tahun 2017, petani seakan menjerit karena harga bawang merah anjlog menyentuh angka Rp 4.000/kg dari harga normal Rp 20.000/kg.

Puncak jeritan petani Brebes terjadi pada Jumat (29/12). Menurut berita yang dilansir dari www.panturanews.com, ratusan petani bawang merah di Kabupaten Brebes melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati. Mereka melempari halaman kantor bupati dengan berkilo-kilo bawang merah. Massa meminta agar Bupati Brebes menemui mereka.

Dalam aksi tersebut, mereka juga membawa spanduk dan poster yang berisikan tuntutan dan ungkapan hati. Dalam berita yang tercantum di laman www.panturapost.com, salah satu spanduk yang menarik perhatian adalah yang berisi tulisan: Nandur Bawang Tukulé Utang, atau kalau diartikan dalam bahasa Indonesia adalah ‘Menanam bawang tumbuhnya hutang’. Salah satu petani mengungkapkan bahwa dirinya sudah hutang puluhan juta untuk modal menanam. Tapi setelah panen tak mendapatkan hasil dan malah harganya anjlog.

Ada beberapa penyebab anjlognya harga bawang di Kabupaten Brebes ini. Anjlognya harga bawang tersebut, diduga karena melimpahnya hasil panen saat ini (www.news.detik.com). Petani juga menjelaskan bahwa cuaca ekstrem turut berkontribusi terhadap kurang maksimalnya pertumbuhan tanaman bawang merah (jateng.tribunnews.com).

Dalam kondisi yang demikian, harapan para petani yakni pemerintah membantu kesulitan mereka dengan menstabilkan harga bawang merah kembali normal. Harapan tersebut tentu bukan tanpa alasan mengingat kerugian besar yang dialami oleh para petani. Himpitan ekonomi di tengah sistem kapitalisme membuat mereka pun harus berusaha survive dengan mata pencaharian yang ada.

Berbicara mengenai harga, dalam sudut pandang Islam pemerintah tidak dibolehkan dalam menentukan harga di pasaran. Jika demikian lalu bagaimana peran negara (pemerintah) yang seharusnya dalam membantu tata kelola pertanian dari mulai produksi dampai dengan penjualan?.

Islam memiliki seperangkat aturan yang sangat lengkap sebagai solusi problem kehidupan termasuk bidang pertanian. Membahas permasalahan bidang pertanian, tentu tidak bisa berdiri sendiri. Namun akan terkait dengan bidang yang lain seperti perdagangan, jasa, tanah yang semuanya mengacu ke sistem ekonomi Islam. Islam memandang permasalahan di bidang pertanian ini terdiri dari masalah produksi sampai penjualan.

Dalam pandangan Islam, peran negara dalam tahap produksi hasil pertanian menyangkut dua aspek yakni intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Dalam aspek intensifikasi pertanian ini, negara berkewajiban menyediakan sarana prasarana, bibit unggul, pupuk, dan lain sebagainya. Upaya pemenuhan kebutuhan ini diberikan secara hibah (cuma-cuma) tanpa memberikan beban kepada petani. Sedangkan dalam aspek ekstensifikasi pertanian, negara bertanggung jawab dalam upaya perluasan lahan pertanian dan menghidupkan lahan-lahan yang mati agar produktif.

Peran negara dalam penjualan hasil pertanian akan menyangkut masalah perdagangan. Negara bertanggung jawab dalam menyediakan sarana dan prasarana yang memudahkan para petani dalam menjual hasil pertaniannya. Selain itu negara juga memastikan bahwa mekanisme di pasar dapat berjalan dengan baik tanpa ada manipulasi harga maupun penimbunan. Islam melarang dengan tegas tindakan penimbunan. Faktor-faktor yang menjadi celah terjadinya kecurangan pun sedemikian hingga ditutup.

Upaya-upaya di atas tentu sangat besar harapannya untuk diterapkan sehingga tidak hanya solusi parsial saja yang dapat diterapkan namun juga secara global. Bukan hanya menyangkut harga bawang merah saja, namun juga harga-harga kebutuhan pokok yang lain. Kejadian nandur bawang tukule utang pun tidak ada lagi. Berharap berubah keadannya menjadi nandur bawang hatipun riang.

(Novita Fauziyah adalah Pendidik, tinggal di Desa Tegalglagah RT 03 RW 02 Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes)


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita