Jumat, 05/01/2018, 11:59:03
Antara Fatwa dan Aksi Nyata
Oleh: Anisul Fahmi

AKSI bela petani yang digelar di pelataran depan kantor bupati pada hari Jumat (29/12) yang lalu, terdiri dari kaum tani sampai kaum akademisi, sebagai respon akan menggeliatnya harga bawang merah yang bikin marah dan semakin merangkak jauh dari harapan petani.

Harga bawang merah semakin tak stabil para petani hidup labil, bagaimana petani tak menjerit biaya produksi naik, hasil panen semakin panik dan mencekik, belum lagi modal biaya produksi hasil dari hutang. Menurut mereka pemerintah dinilai tak bisa memberikan kebijakan yang merakyat, justeru bikin sekarat. Maka aksi nyata demonstrasi sebagai solusi yang tepat.

Dalam orasinya, para petani mengajukan enam tuntutan kepada pemerintah setempat. Yakni, melakukan penyerapan bawang merah dengan harga normal yakni Rp 15 ribu per kilogram. Segera melakukan ekspor bawang merah, sehingga petani masih menikmati hasil keuntungan.

Pada saat yang sama, Pemerintah setempat menerima langsung peserta aksi bela petani, mengungkapkan pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat perihal permasalahan harga bawang. Pihak pemerintah setempat juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan, Perum Bulog untuk melakukan penyerapan hasil panen. Tak cukup disitu, upaya bupati  untuk menstabilkan harga bawang, menginstruksikan kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Brebes untuk membeli bawang merah di petani langsung, dan sekarang dijalankan paling tidak hal itu mengurangi beban petani. 

Namun sebenarnya masih banyak persoalan besar tak hanya soal harga yang harus dilakukan oleh pemerintah kabupaten Brebes, demi berlangsungnya petani bawang merah kedepan, pertama membenahi infrastruktur pertanian, secara totalitas.

Kedua datangkan tenaga ahli untuk mengembalikan tanah brebes yang subur. Ketiga maksimalkan lembaga usaha untuk mengelola bawang merah sedemikian rupa melalui dinas Pertanian. Sehingga pemerintah daerah peduli terhadap produk unggulan yang menjadi ikon brebes dan siap bersaing.         

Disela-sela masih hangatnya aksi bela petani, tokoh agama dan kyai ikut memberikan perhatian yang terjadi perihal demonstrasi. Seperti di salah satu kolom halaman koran cetak yang terbit pada hari rabu 03 Januari 2018 berjudul “Harga Anjlok Tebarkan Sholawat” didalamnya tertulis harga bawang di Brebes anjlok karena petani kurang berzakat, sebab untung dan rugi merupakan ketentuan Allah SWT dalam dunia perdagangan. Termasuk tidak membayar zakat petani akan rugi kedua-duanya.

Demikian KH Subkhan ceramahnya di Pendopo. Tak hanya itu, KH Subkhan mengajak masyarakat brebes untuk tidak selalu menyalahkan pemerintah “Gak Perlu Demo ketika harga bawang anjlok, kita tebarkan saja sholawat nanti berkah. Tegas beliau.

Kapasitas beliau sebagai kyai wajar saja memberikan wejangan kepada umatnya untuk selalu intropeksi dan evaluasi diri, dan pandangan-pandangannya penuh dengan nilai-nila agama.

Ceramah beliau benar adanya dalam kacamata agama, tak dipungkiri bisa saja petani kurang zakat menjadi sebab musababnya harga semakin sekarat. Tak ada syukur yang sebenarnya menjadi pelipur, dimana harta kekayaan ada hak untuk orang yang membutuhkan.

Soal untung dan rugi sebuah keniscayaan. Banyak yang tak sadar penghasilan semakin meningkat namun lalai akan zakat. Bukankah Agama mengatur cara kerja bernilai pahala, tak sekedar tujuan harta, tahta dan wanita. Bukankah Agama memberikan garansi tetap harus peduli sesama manusiawi. perjalanan hidup tak selamanya ni'mat atau sekarat. Hidup tak selamanya suka atau duka, bahagia atau sengsara.

Disisi lain pandangan agama tak dibarengi dengan aksi nyata terasa hampa, berdoa tak selaras usaha tentunya belaka, begitu juga usaha tak disertai do’a ia jumawa dihadapan tuhannya. Oleh sebab itu jadilah manusia yang salih spritual dan salih sosial. Krisis spritual dan kurangnya kebijakan pemerintah yang menjadi wabah. Semoga kebijakan pemerintah selalu berpihak kepada petani, biar ekonominya tak merugi, berkah tak serakah, remojong dan gotong royong. Amin. 

(Penulis dilahirkan di Desa Dumeling, Wanasari Brebes, sekarang sedang menempuh Program Pascasarjana UNUSIA Jakarta, Kosentrasi Sejarah Kebudayaan Islam. Ketua Umum KPMDB Jakarta 2015-2016)



 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita