Sabtu, 06/01/2018, 02:46:31
Sinergitas Pesantren dalam Mencetak Masyarakat Terdidik
Oleh: Ade Irmanus Sholeh

PONDOK Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Apabila dilihat dari namanya merupakan perpaduan dari dua kata, yaitu pesantren yang berasal dari kata santri, yang mengalami pergeseran makna kebahasaan (linguistic change) dari asal kata santri yaitu nama yang diberikan kepada penuntut ilmu agama Hindu – Budha dan kata Pondok, yang berasal dari kata funduq (bahasa Arab) yang datang ke tanah air bersamaan dengan datangnya Islam. Dari segi konsep pendidikan memang tidak nampak adanya sinthesa  dari kedua ajaran tersebut.

Teori maupun praktek dilakukan sedemikian rupa, sehingga para santri melihat contoh, mengalami suatu penerapan keterampilan, baik yang dilakukan bersama-sama secara sungguh-sungguh, maupun yang dilakukan oleh kelompok simulasi dengan teknik penggunaan alat peraga (audio visual) atau sorogan (tutorial). Teknik ceramah yang diikuti dengan teknik diskusi merupakan hal yang sudah menjadi tradisi yang dilaksanakan di Masjid.

Masjid sebagai sarana dasar pendidikan yang sudah berjalan selama berabad-abad lamanya, sehingga dilengkapi dengan pondok untuk menginap para santri, karena para santri tidak hanya datang dari satu daerah saja. Kegiatan pendidikan  yang dilakukan di Pesantren tidak hanya terbatas pada kegiatan yang sudah dipersiapkan kurikulumnya atau administrasinya, meskipun secara sederhana (formal education) akan tetapi juga melaksanakan kegiatan pendidikan lain seperti pengajian mingguan, pengajian yang hanya dilakukan setelah sholat shubuh atau yang dilakukan setelah sholat maghrib dan  tabligh-tabligh (non formal education).

Dalam perkembangannya, pesantren ada yang sudah memiliki laboratorium, bahkan lebih jauh dari itu dengan adanya konsep-konsep pemikiran yang tumbuh di kalangan pesantren, yaitu adanya kebutuhan pengakuan terhadap para lulusannya dari pihak pemerintah, mereka melaksanakan sistem pendidikan ala Barat, yaitu menyelenggarakan pendidikan SD, SMP ataupun SMA atau sinthesa (perpaduan) yaitu Madrasah.

Sekarang kita melihat bahwa pesantren yang tadinya terdiri dari rumah Kyai dan Masjid, sekarang sudah berkembang sedimikian rupa dengan mengadakan pendidikan yang plural dan majemuk, sehingga komplek pesantren berkembang seperti kampus. Lembaga pendidikan pesantren tidak hanya menyelenggarakan  pendidikan yang hanya ditujukan untuk mencetak para Kyai, Ustadz, akan tetapi melakukan suatu proses pendidikan kemasyarakatan yang komprehensif dan membentuk masyarakat terdidik.

Dilihat dari perkembangan ajaran ilmu agama dan masyarakat yang mempunyai ketahanan agama, pesantren juga memainkan peranan sebagai kubu kelangsungan nilai sebagai pusat komunitas. Karena kemampuan pesantren  untuk memelihara, meneiti, mengembangkan dan melaksanakan tata nilai serta norma agama yang maksimal, tidak jarang pesantren juga melakukan dan mempertahankan kemurnian tata nilai dan norma tersebut.

Pesantren yang mempunyai pondok dalam proses interaksi sosialnya mempunyai karakteristik pendidikan yang menghasilkan kegotong-royongan, semangat tolong menolong, jiwa kesatuan dalam jamaah, rasa persamaan, semangat bermusyawarah, semangat mematuhi ketentuan, rasa saling menenggang yang diseut dengan tasamuh (toleransi).

Karakteristik lain yang unik di dalam proses pendidikan pesantren ialah tidak adanya stratifikasi kelas, akan tetapi adanya tingkat penguasaan kitab dan di dalam proses akhir seringkali terjadi spesifikasi ilmu agama. Di pesantren terjadi proses pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kurikulum, namun berorientasi pada anak didik baik yang didasarkan atas kemampuannya mauapun berdasarkan kebutuhannya.

Lembaga pedidikan pesantren melaksanakan pendidikan terpadu untuk kematangan teoritis loguitif (kognitf/intuitif). Sikap dan ketrampilan khusus yang merupakan aplikasi dari teori tertentu, misal ilmu tentang ibadah dan ilmu lain seperti mantik dalam ilmu logika, waris, hisab, perkawinan dan sebagainya. Tujuan pendidikan pesantren tidak hanya duniawi (mondial) dan sementara (temporer), akan tetapi sampai pada alam ukhrawi untuk mencapai keridhaan Allah, baik di dunia maupun di akhirat.

(Ade Irmanus Sholeh adalah Mahasiswa Universitas Peradaban Bumiayu)


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita