Jumat, 09/02/2018, 12:35:23
Mahasiswa Kritisi Program Calon Walikota Tegal
LAPORAN JOHARI & SL. GAHARU

Korlap KAMMI, Hadi Wahendro berorasi di KPUD Kota Tegal (Foto: Johari)

PanturaNews (Tegal) - Enam mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), menggelar aksi damai mengkritisi para calon Walikota Tegal karena programnya tidak kongkrit, di depan Kantor KPU Kota Tegal, Jawa Tengah, Kamis 08 Februari 2018.

Koordinator lapangan (Korlap), Hadi Wahendro, menilai dinamika politik di Kota Tegal, sangat membosankan dan statis. Semua calon programnya belum jelas dan belum kongkrit. Spanduk, Benner dan Baliho hanya berisi slogan kosong sebagai pelipur lara masyarakat Kota Tegal.

“Di baliho wajah dibagus-bagusin, agar kelihatan gagah dan cantik, tapi programnya tidak jelas dan tidak kongkrit,” teriak Hadi.

Sementara Ketua KAMMI, Zaenul Faqih menilai kini saatnya pilkada harus berjalan lebih baik, para calon harus mempunya konsep program yang dapat menjadikan Kota Tegal di titik keemasan. Karena jika tidak ada kejelasan konsep atau gagasan program, dikwatirkan para calon akan perang politik uang.

Calon akan mengutamakan finansial sebagai bujukan dukungan, daripada mengedapankan program sebagai daya tawar kepada masyarakat. Dan KPU Kota Tegal, sebagai panitia juga harus menjaga netralitas, martabat dan bersih agar mendapat kepercayaan dari masyaraakat.

“KAMMI prihatin dua kali walikota harus berurusan dengan hukum, karena adanya politik uang,“ tegas Zaenul Faqih.

Aksi damai dari KAMMI, tidak satupun komisioner KPUD Kota Tegal menemui, karena semuanya sedang rapat pleno terbuka Rekapitulasi Hasil Verifikasi  Partai Politik Calon Peserta Pemilu 2019, di Hotel Bahari Inn.

Ketua KPU Kota Tegal, Agus Wijonarko membantah pihaknya sengaja tidak menemui aksi mahasiswa. Menurutnya, pemberitahuan adanya audiensi mahasiswa KAMMI, bertepatan dengan adanya rapat pleno terbuka Rekapitulasi Hasil Verifikasi.

“Empat komisioner KPU harus hadir di rapat pleno itu, karena jika yang hadir kurang dari empat, maka rapat pleno tidak memenuhi quorum. Sementara satu anggota KPU yakni Thomas Budiono sedang mengikuti rakor di Semarang. Jadi kedatangan mahasiswa ke KPT, jadwal waktunya tidak tepat,” terang Agus.  



 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita