Minggu, 18/02/2018, 11:58:07
Saatnya Sekarang Berperan Menjadi Bunglon
Oleh: Lanang Setiawan

SEBENTAR lagi di kotaku gegap-gempita helat Kodrahkada (baca: Pemilihan Kepala Daerah). Saatnya aku berperan menjadi bunglon. Aku akan berpura-pura pasang wajah manis pada semua paslon, tapi dalam hatiku bersarang iblis durjana yang cerdik secerdik kancil. Licin seperti belut. Tapi ganas dan berbisa seperti ular beludak.

Tekadku hanya satu: nguras fulus, mumpung atmofer yang sedang dikibarkan saat ini lagi deras-derasnya digelontor ‘hujan duit’. Lima tahun sekali pesta demokrasi lima tahun digelar. Ah! Peduli amat aku pada tetek-bengek moralitas. Aku tanggalkan perspektif kebajikanku. Saatnya sekarang aku memakai topeng kebusukan!

Hari-hari mendekati Kodrahkada di kotaku, para paslon menebar janji semanis madu, mengalahkan langit biru. Membentang amparan surga di mayapada. Mereka bak manusia setengah dewa, menyulap keterpurukan menjadi gemah ripah loh jinawi.

Rakyat dihipnotis janji-janji semanis madu. Pasca perhelatan Kodrahkada, kepongahan, keculasan, dan kebohongan digelar lagi mantan paslon ketika mereka telah jumeneng di Singgasana, berubah menjadi singa paling menakutkan dan makmak. Apa saja diuntal. Hajat proyek pembangunan di mar-up. Kota diodol-odol demi menangguk prelek (fee). Jabatan menjadi barang dagangan paling menggiurkan. Persekutuan jahat menjadi laku paling jitu buat kekayaan anak putu.

Bilakah saat ini aku berubah menjadi singa lapar, janganlah engkau salahkan aku. Siapa yang memulai dan ingkar janji? Dulu aku subya-subya mereka. Sekarang mereka menanam benih kebencian. Mereka telah mengajari rakyat tak lagi percaya. Mereka sendirilah yang menciptakan keadaan morat-marit .

Pengalaman itulah yang membawaku harus berubah. Aku tidak lagi percaya pada janji mereka. Aku akan menyelaraskan rasio dan rasa: berjingkrak-jingkrak, menipu secara halus kepada siapa pun. Aku akan menjadi mata-mata di masa-masa ‘pergolakan’ helat Kodrahkada di kotaku. Sudah barang tentu, aku akan bermain cantiknya dan waspada. Akal licikku musti rapi.

Dengan kelicikan dan tipu daya, aku bisa leluasa blusakan ke kandang para paslon. Bertemu dan berkenalan dengan mereka. Kepandaianku sebagai bunglon akan memudahkan aku merdeka menjalankan kerja kebusukan.

Jangan dikira hanya mereka yang kuasa berperan sebagai orang berpura-pura baik, tapi sesungguhnya pemain ‘paling busuk’. Aku pun sanggup, berperan dari tabiat yang lemah lembut, sopan-santun penuh unggah-ungguh, sekonyong-konyong berubah dratis menjadi horor paling ganas di belakang mereka.

Aku sudah niatkan menjadi mata-mata buat para paslon! Yakinlah, bahwa aku mampu menguras kocek mereka sekuat-kuat dan sejahat mungkin bermain dengan kelicikan!

Sebagai bunglon, aku akan mencari informasi dari satu paslon ke paslon lain. Ketika aku mendapatkan informasi penting dari satu paslon, aku berikan informasi itu kepada pihak yang membutuhkan. Informasi paslon A aku berikan kepada paslon B. Informasi A dan B aku berikan kepada Paslon C. Informasi ABC aku berikan kepada paslon D dan seterusnya.

Imanku? Ahklakku? Jangan sebut-sebut soal ini. Sekarang bukan lagi bicara soal itu. Tapi cut alias fulus, adalah sasaran utamaku. Aku akan cuwek bebek, bila kelak tatanan birokrasi amburadul. Stegmaku pada keselarasan kondisi kerakyatan, sudah terlanjur remuk redam.

Berpuluh tahun, semenjak aku berstatus sebagai rakyat jelatah, perubahan yang aku harapkan dari pemimpin kota tidak pernah terwujud. Kotaku tetap saja stagnan. Padahal sudah berbilang kali Penguasa Kota berganti. Nyatanya? Mereka cuma mementingkan golongannya, birokratnya, bawahannya, dan rakyat hanya diperlukan pada saat-saat darurat.

Siapa yang salah jika rakyat berubah pikiran? Rakyat sudah jeleh, bosan, dan muak oleh laku para Penguasa Kota yang diharapkan amanah, malah jadi Penguasa Pemamah.

Sekali lagi! Dengan pengalaman yang sudah-sudah, aku tak lagi peduli siapa yang bakal jumeneng di Singgasana kotaku. Tak lagi peduli wilayahku nanti burak-rantak. Dalam batok pikirku, cuma ada satu ujaran: *Lu bisa seneng* *Gua pun harus bisa seneng! Stegma ini berlaku sampai maindset para paslon betul-betul punya etikad baik, barulah aku berubah.

Sesungguhnya, itulah hakekatku-bahkan semua lapisan masyarakat pun-, menghendaki perubahan dan perbaikan. Kami memimpikan paslon yang nanti duduk di tampuk pimpinan,  menjadi panutan yang betul-betul amanah bukan pemamah. Ini satu bab paling urgen buat para paslon yang kini sedang berjuang untuk menjadi Panutan!

Semoga helat Kodrahkada di kotaku, baik-baik saja! 

(Lanang Setiawan adalah seniman multi talenta, pemerhati sosial budaya, tinggal di Kota Tegal)


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita