Rabu, 07/03/2018, 01:39:39
Heru: Sekarang Saatnya Mbangun Tanah Kelahiran
LAPORAN SL. GAHARU

Herujito (tengah) diapit Ketua DPC PDIP Kota Tegal, Edy Suripno (kiri) dan Sugono (Foto: Dok/Gaharu)

PanturaNews (Tegal) - Awalnya, sejak muncul sebagai sosok dalam rekomendasi DPP PDI Perjuangan, nama Herujito yang akrab disapa Heru adalah “orang asing” di percaturan kandidat calon Walikota Tegal. Banyak yang tercengang, kaget, kemudian bertanya-tanya; Siapa sih dia?

Pada akhirnya, dari mulut ke mulut, sedikit-sedikit pertanyaan siapa dia mulai terjawab. Apalagi Herujito yang berusia 45 tahun, sejak namanya mendapat rekomendasi untuk menjadi calon Walikota Tegal, belum muncul sepenuhnya. Baru setelah mendaftar ke KPU, gambaran siapa dia mulai terkuak. Itupun baru sebatas orang-orang tertantu.

Baru setelah Herujito yang bersapangan dengan Sugono sebagai calon Wakil Walikota Tegal melakoni kampanye blusukan ke pasar-pasar, serta banyak melakukan dialog dan tatap muka dengan masyarakat berbagai kalangan.

Kulo niki asli wong Tegal, Umahé Néng Slerok,” (Saya ini asli orang Tegal, rumahnya di Slerok). “Nganti SMA sekolah neng Tegal, trus kuliah néng Jakarta. Dadi saiki waktuné mbangun Kota Tegal, kota kelahirané kulo,” (Sampai SMA sekolah di Tegal, lalu kuliah di Jakarta. Jadi Sekarang saatnya membangun Kota Tegal, kota kelahiran saya).

Herujito kelahiran dan tinggal di Jalan Antareja Gang Bisma 2 RT. 2 RW. 2, Kelurahan Slerok, Kecamatan Tegal Timur, Tegal Kota. Dia putra bungsu dari enam bersaudara dari ibu Salminah dan Bapak Djuri yang berkerja di Texin Tegal.

Itu jawaban Herujito ketika Risky (38) warga Jalan Depo Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal yang bertanya tempat tinggalnya. “Dongé sampéyan asliné endi?,”

Jawaban itu juga diberikan kepada para pedagang pasar tradisional, secara langsung, atau dengan menyebarkan profil dirinya. Pada setiap kampanye dialogis dan tatap muka, Herujito selalu mengawali dengan perkenalan.

Pada perjalanan berikutnya, orang mulai mengenalnya. Bahkan tidak sedikit dia bertemu teman-teman kecilnya.

Insya Allah enyong milih Mas Heru, kanca ciliké enyong, (Insya Allah saya memilih Mas Heru, teman kecilnya saya),” ujar pedagang sembako di Pasar Anyar Martoloyo.

Ketika Herujito diundang Ikatan Alumni SMA Al Irsyad Tahun 1992, Zamroni dihadapan dua ratus warga mengungkap Herujito semasa sekolah di SMA Al Irsyad Kota Tegal.

Pak Herujito kuwé wongé sederhana, pinter tolih apikan karo kanca batir. Jaman sekolah, déwéké senengé dadi ketua kelas, ketua pramuka. Kegiatan apa baé dipéloni, (Pak Herujito itu orangnya sederhana, pintar dan baik dengan teman-teman. Semasa sekolah, dia senangnya menjadi ketua kelas, ketua pramuka. Kegiatan apa saja diikuti),” kata Zamroni.

Soal blusukan ke pasar-pasar bercengkerama dengan pada pedagang, adalah cara Herujito menyerap aspirasi mereka. Dari para pedagang, banyak keluhan yang didapat. Tapi bukan cuma itu, di pasar, Herujito selalu mencari jajanan tradionil seperti gemblong, ongol-ongol, kamir dan lainnya yang langsung dimakan. Termasuk kupat blengong, yang ternyata menjadi makanan favorit dia dan keluarganya.

“Saya suka makan kupat blengong. Setiap kali pulang ke Tegal, saya dan keluarga tidak pernah melewatkan makan kupat blengong,” ucap Herujito di sela blusukanya ke rumah para pedagang kupat blengong di Kelurahan Sumurpanggang, Kecamatan Margadana, Kota Tegal.

Itu sebagai obat kangen kepada masa kecil dan tanah kelahiranya. Maklum, setelah lulus SMA, Herujito merantau ke Jakarta. Dia kuliah di Akademi Teknik Mesin UPN Veteran Jakarta, lulus tahun 1996. Dan kuliah di Fisip UNAS Jakarta llulus Tahun 2012.

Herujito ‘nekat’ ke Jarkarta dengan bekal seadanya. Orang tuanya yang hidup sederhana, hanya memberi bekal secukupnya. Menurut dia, jika dihitung secara matematika, bekal yang diberikan ayahnya sangat kecil jika dihitung untuk biaya makan, kos dan keperluan kulian.

“Tapi dari sana saya petik pesan moral dan sisi baiknya. Kepada orang tua, jika ada anaknya ingin sekolah, jangan dicegah karena alasan biaya. Beri semangat, meski kita hanya sedikit membantu. Saya kuliah sambil bekerja. Jadi selama ada kemauan, pasti ada jalan untuk mencapainya,” tutur Herujito.

Suami dari Indryan Septiana, S.Sos ini, mulai bekerja pada tahun 2000 diantaranya menjabat Second Enginer di PT. Pelangi Niaga Mitra International, Supervisor di PT Lingkaran Survay Indonesia (LSI), Manager Campaign Strategic di PT Jaringan Suara Indonesia (JSI), hingga pada tahun 2014 sampai sekarang sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, yang Menangani Hubungan Kelembagaan Pemerintah.

Ayah dua putra, Syafira Alifia Athalia Meilaputri dan Genta Prayata Arya ini, memegang jabatan Direktur Utama PT IFOK (Inisiatif Fokus Indonesia) bergerak di bidang reseach and konsultan politik, dan Komisaris Utama PT Kopi Magma Bumi Malabar.




 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita