Minggu, 18/03/2018, 12:05:08
Dewi Aryani: Soal Irigasi Perlu ada MoU Dua Daerah
LAPORAN SL. GAHARU

Anggota DPR RI Komisi 9 Fraksi PDI Perjuangan, DR Dewi Aryani.

PanturaNews (Tegal) - Keluhan petani di wilayah pantura Kecamatan Suradadi, dan Warureja, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, soal pengairan masih dicarikan solusinya. Selama ini untuk pengairan sekitar 150 hektar sawah, petani harus menyewa pompa air sehingga menambah biaya tanam menjadi lebih mahal.

Keluhan para petani itu disampaikan kepada Anggota DPR RI Komisi 9 Fraksi PDI Perjuangan, DR Dewi Aryani, MSi di berbagai kesempatan. “Kali ini petani kembali meminta saya untuk turun ke persawahan di wilayah pantura Suradadi dan Warureja. Maka hari ini (17/3) dan besok (18/3) saya turun ke lapangan,” ujarnya, Sabtu 17 Maret 2018.

Setelah melakukan dialog dengan para petani, Dewi Aryani yang akrab disapa DeAr, menyampaikan akan membantu petani memberikan solusi. Menurutnya, kalau selama ini petani mendapatkan air dari bendungan Cipero yang terletak di sungai Rambut di perbatasan Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang, tepatnya di Desa Kedungjati, Warureja, Kabupaten Tegal dan Desa Gongseng, Randudongkal, Kaupaten Pemalang.

“Maka salah satu solusi adalah mendorong agar dilaksanakannya MoU antara Pemkab Tegal dan Pemkab Pemalang, mengingat sumber air letaknya di perbatasan kedua kabupaten tersebut,” tutur Dewi Aryani.

Selain itu, kepada politisi PDI Perjuangan yang berangkat ke Senayan dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah IX (Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes), warga sekitar wilayah pertanian juga mengharapkan ada perbaikan saluran (plesteran) di saluran tersier yang masuk ke wilayah persawahan.

“Permintaan warga itu, agar tidak terjadi kebocoran pada dinding saluran. Sementara ini untuk mencegah kebocoran, disiasati dengan diberi plastik di dinding saluran tersier itu,” tutur Dewi Aryani.

Sebelumnya, keluhan petani disampaikan saat dialog di Rumah Aspirasi Dewi Aryani di Desa Sidaharja, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal, dan ditindak lanjuti dengan peninjauan langsung ke persawahan.

“Ternyata banyak sawah di pantura Suradadi yang tidak ada saluran irigasinya. Jadi jika musim kemarau, untuk kebutuhan air, petani terpaksa harus beli,” tutur DeAr.

Pada musim kemarau petani secara kelompok harus menyewa pompa air untuk mengambil air dari dalam tanah. Untuk menyewa pompa air dan bahan bakar, petani mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.




 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita