Sabtu, 07/04/2018, 12:12:23
Menakar Kewarasan Kaum Intelektual
Oleh: Irman Nu’man Syukron Ghozy

Berbicara tentang kaum intelektual, tentu kita dihadapkan dengan tantangan dan problematika yang semakin kompleks di era sekarang ini. Menurut Coser (1965), intelektual adalah orang-orang berilmu yang tidak pernah merasa puas menerima kenyataan sebagaimana adanya.

Mereka selalu berpikir soal alternatif terbaik dari segala hal yang oleh masyarakat sudah dianggap baik. Ini dipertegas oleh Shils (1972) yang memandang, kaum intelektual selalu mencari kebenaran yang batasannya tidak berujung. Lalu, siapakah intelektual itu?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata intelektual berkaitan dengan kata intelek. Intelek berasal dari kosakata Latin: intellectus yang berarti pemahaman, pengertian, kecerdasan. Dalam pengertian sehari-hari kemudian berarti kecerdasan, kepandaian, atau akal.

Pengertian intelek ini berbeda dengan pengertian taraf kecerdasan atau intelegensi. Intelek lebih menunjukkan pada apa yang dapat dilakukan manusia dengan intelegensinya; hal yang tergantung pada latihan dan pengalaman. Intelek di sini merepresentasikan daya atau proses pikiran yang lebih tinggi yang berkenaan dengan pengetahuan, yaitu daya akal budi dan kecerdasan berpikir. Kata intelek juga berkonotasi untuk menyebut kaum terpelajar atau kaum cendekiawan.

Mahasiswa sebagai kaum intelektual yang unggul, terdidik dan kristis yang mempunyai segudang ilmu pengetahuan yang menjadi garda terdepan dalam merubah tatanan  peradaban baru. Ada sebuah cerita unik saat membaca sebuah komik meme di media sosial yang menuliskan “Mahasiswa takut sama dosen, dosen takut sama rektor, rektor takut sama menteri, menteri takut sama presiden, tapi presiden takut sama mahasiswa” betapa bernilainya menjadi mahasiswa yang disegani presiden, dan dianggap khalayak umum sebagai manusia yang tahan terhadap tantangan zaman serta berpegang teguh pada prinsip-prinsip kebenaran. Ini merupakan contoh riil betapa diperhitungkannya mahasiswa dalam kehidupan sosial masyarakat, karena ia (mahasiswa) merupakan aktor perubahan.

Kita coba ingat kembali pada era orde baru, betapa heroiknya mahasiswa  bersuara dan beraksi nyata dalam menentang kekuasaan tiran dan dzalim terhadap rakyat. Dengan caranya sendiri, mahasiswa mendobrak pintu tiran dan diktator. Masih teringat jelas dalam benak kita peristiwa yang terjadi saat reformasi besar-besaran berlangsung tahun 1998 yang dimotori oleh kalangan mahasiswa se Indonesia berhasil meruntuhkan rezim Soeharto dan menghancurkan tahta kekuasaan yang tiran sehingga presiden yang berkuasa selama 32 tahun itu lengser karena bobroknya birokrasi pemerintah yang tidak transparan yang penuh dengan kebusukan serta maraknya Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dan pembungkaman terhadap suara-suara kritis yang mengarah kepada rezim Soeharto, mematikan kebebasan demokrasi rakyatnya yang tak sejalan dengan HAM.

Lalu bagaimana dengan paradigma mahasiswa dewasa ini? paradigma berbeda mahasiswa sebagai kaum kritis terdidik unggul dari llingkungan akademisi secara ideal diharapkan mampu mewujudkan cita-cita bersama yaitu sebagai Agent Of Change, Moral Force, Agent of Control social Change dan sebagainya, namun yang terjadi hanya sebagian saja mahasiswa mampu berperan dalam tiga tugas pokok tersebut.

Sebagai contoh, di dalam kehidupan sehari-hari misalnya dalam ranah lingkar diskusi, tidak banyak mahasiswa kita jumpai dalam lingkar diskusi yang ada dalam kehidupan kampus. Kajian ataupun diskusi acap kali menjadi hal yang sangat membosankan bagi mahasiswa sekarang, mereka lebih nyaman duduk, diam dan mendengarkan dosen menyampaikan materi di ruangan yang berAC nyaman. Mereka dibuat terlena dengan game-game yang kurang mendidik yang hanya membuat mereka malas dan tidak mengahsilkan output sama sekali. Tiga hal yang wajib dilakukan oleh kaum intelektual (mahasiswa) adalah, baca, diskusi dan aksi.

Semakin hari semakin tidak waras saja mahasiswa di era millenial ini, dengan hadirnya teknologi yang canggih mereka para kaum intelektual menggunakan gadget hanya sebatas untuk hiburan dan bahkan ada yang maniak menjadi gamer sejati, mereka terlena dan terbuai dan melalaikan tugas mereka adalah sebagi aktor perubahan, yang akan mereka hadapi nantinya adalah manusia nyata bukan dunia maya.

Dengan membaca dan diskusi maka khazanah keilmuannya akan bertambah, kaum intelektual itu haus akan pengetahuan dan mendambakan perubahan yang diidam-idamkan oleh khalayak umum. Mahasiswa sekarang hanya akan membaca dan rajin ke perpus jika sudah mendekati skripsi, ini yang menjadi benang merahnya, kultur membaca mahasiswa sekarang sangatlah minim, forum-forum diskusi semakin sepi.

Tempat favorit mahasiswa sekarang adalah tempat tongkrongan yang nyaman dengan berbagai menu yang mahal, mereka berbicara tentang bahayanya ekonomi kapitalis yang mengancam bangsa ini, tapi mereka tidak sadar, mereka tongkrongan di Star buck cafe, tongkrongan di McDonald, apakah ini waras?? Mereka anti asing dan kapitalis, tapi mereka tongkrongan di tempat-tempat yang jelas-jelas membahayakan perekonomian bangsa dan mengancam secara langsung pelaku usaha pribumi, apakah ini waras?

Ini merupakan sebuah kemunduran inteluktual yang sangat darurat dan harus cepat ditanggapi dengan serius demi terselamatkannya generasi penerus bangsa yang waras dan peduli terhadap tujuan dan arah bangsa ini. Dalam dinamika sejarah, mahasiswa memainkan peran penting dalam menopang kemajuan bangsa, beberapa tokoh muncul menjadi pendobrak kemajuan saat mereka menjadi mahasiswa semisal bung Hatta, Sjahrir dan Bj Habibie.

Dari tahun 1908 hingga kemerdekaan 1945 dari malari 14 januari 1947 hingga reformasi 1998 kolaborasi mahasiswa yang intelek menjadi kekuatan yang mampu membuat sebuah perubahan kearah yang lebih baik untuk kepentingan masyarakat, pembela masyarakat ini merupakan kaca besar sebagai refleksi diri agar untuk selalu berbenah memperbaiki tupoksi mahasiswa yang diharapkan bangsa ini.

Aroma akademis tak dapat dihilangkan dalam setiap bahasa yang keluar dari lisan, teriakkan terhadap kasus-kasus yang  menjadi atmosfir setiap gerakan-gerakan sosial, hidup dikampus bukan sekedar mencari selembar Ijazah. Namun, lebih dari itu penggodokan pola pikir dapat dimulai dari bangku kuliah.

Mahasiswa adalah agen-agen perubahan yang dipundaknya terpikul rencana-rencana besar sebuah Negara, bangkitlah… kaum intelektual, teruslah menghujat para penguasa... teruslah suarakan nilai-nilai kemanusiaan. Sekali lagi.. karena kalian adalah agen perubahan bangsa…..

(Irman Nu’man Syukron Ghozy adalah mahasiswa Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita