Senin, 16/04/2018, 04:46:36
Perempuan Dalam Bingkai Politik
Oleh: Siti Zulaeka

Berbicara tentang perempuan sangatlah sensitif bagi kaum adam, karena perempuan adalah public figur dari semua hal yang ada di dunia. Menjadi tantangan bagi kaum perempuan menjaga sebuah kehormatan untuk tetap menjaga kukuh martabat darinya.

Tidak banyak perempuan yang berani dalam hal sendiri ataupun dalam sebuah jabatan tertinggi, karena setipa perempuan adalah seorang yang sangat harus di jaga dalam hal apapun. Semakin maju negara indonesia memuat kaum perempuan tinggi derajatnya, bukan seperti zaman jahiliyah. Setiap seorang ibu yang melahirkan jabang bayi berjenis kelamin perempuan, pasti akan dibunuh secara hidup-hidup hanya karena pemikiran mereka yang berasumsi bahwa nilai harga  diri lelaki lebih unggul dibandingkan perempuan, perempuan hanya menjadi pemuas saja untuk laki-laki.

Kehidupan ialah seperti roda dalam sebuah kendaraan yang selalu berputar pada setiap langkahnya, seperti zaman yang semakin tahun semakin berekembang dan maju, itulah hukum alam dalam sebuah kehidupan. Dahulu perempuan diperjual belikan layaknya baju-baju yang di pasar dengan tawaran dan tangan siapapun yang memegang.

Nasib seorang perempuan yang begitu malang dalam menjalani sebuah kehidupan pada zaman tersebut, bahkan sebagian budaya yang menjadikan perempuan sebagai budak atau pembantu. Perempuan dilarang untuk bersekolah tinggi-tinggi, perempuan dilarang keluar rumah dan perempuan hanya boleh menempati tiga tempat sumur, kasur dan dapur. Orang tua berpikiran bahwa setinggi apapun derajat perempuan tetap saja menjadi istri yang akan melayani suaminya dan patuh atas apa yang diperintahkannya.

Sebegitukah seorang perempuan? Sebenarnya ada yang terlupa pada diri seorang perempuan, perempuan sendiri tidak tahu arti dari kata perempuan hingga mereka menganggap dirinya lemah. Perempuan berasal dari bahasa sanseketa yanitu “Empu” yang berarti Tuan. Layaknay seorang tuan adalah dimuliakan, bukan disakiti ataupun dijadikan pembantu.

Bahkan tokoh perempuan yang sering kita peringati pada tanggal 21 April yaiu Raden Ajeng Kartini telah memberikan sebuah motivasi untuk orang lain, hingga setelah beliau meninggal berdirilah sekolahan di semarang yang terkhusus hanya untuk seorang perempuan. 

Zaman sekrang sudah sedikit seorang perempuan yang hanya meneruskan tingkat pendidikannya sampai Sekolah Dasar, sekarang banyak perempuan-perempuan yang menduduki jabatan dalam sebuah negara, bahkan ada yang menjadi seorang pemimpin negara seperti ibu Megawati Soekarno Putri presiden Republik Indonesia tahun 2000-2004 dan juga Bupati kota Brebes Hj. Idza priyati S.E yang memiliki jabatan hingga dua periode tentunya masih banyak lainnya.

Indonesia adalah negara demokrasi yang membolehkan suara siapasaja, tidak membatasi dengan jenis kelamin, itulah salah satu mengapa perempuan berani menduduki jabatan pada sebuah negara.

Sekilas tentang tokoh yang pernah menduduki jabatan tertinggi dalam sebuah negara. Megawati Soekarno Putri orang mengenal beliau nama asli beliau ialah Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri. Beliau adalah presiden wanita pertama di Indonesia, beliau lahir di Yogyakarta, 23 Januari 1947 beliau adalah presiden ke-5 Republik Indonesia.

Perjalanan karir politik beliau tidak semulus yang terlihat meskipun beliau adalah keturunan soekarno dan fatmawati yaitu seorang politikus handal. Dalam perjalana karirnya berbagai ocehan dari orang-orang telah beliau terima  terlebih saat beliau menjadi ketua umum dan diusik oleh pemerintah, bahwa pemerintah menganggap dan menolak karena ilegal tidak secara resmi. Megawati tetap berjuang untuk tetaa mempertahankan jabatannya sebagai ketua umum saat itu. Pemerintah mendukung Soejardi tapi, masa berpihak kepada beliau dan akhirnya terjadi dualisme kepemimpinan. PDI dibawah Soejardi dan PDI dibawah megawati.

Setelah rezim orde baru tumbang, akhirnya Megawati mengubah nama PDI menjadi PDI Perjuuangan. Tahun 1999 PDI-Perjuangan telah menang pemilu dengan perolehan suara 33,74% dan peluang menjadi presiden masih terbuka tentunya, tapi Amin Rais pun membentuk poros tengah dengan mengusung Abdurrahman Wahud sebagai calon presiden dan Megawati menjadi wakil presiden.

Sidang MPR 1999, Abdurrahman Wahid terpilih menjadi presiden dengan wakilnya megawati namun pada tanggal 23 Juli 2001 MPR mencabut mandat presiden RI Abdurrahman Wahid dan mengangkat wakilnya Megawati Soekarnoputri untuk menjadi presiden RI hingga 2004. Ambisi megawati untuk mejadi seorang pemimpin teruslah berkobar, hingga 2001 belia mencalonkan diri lagi menjadi presiden, namun beliau dikalahkan oleh Susilo Bambang Yudoyono.

Banyak yang memperdebatkan tentang seorang perempuan dalam sebuah pemimpin. Melihat arti dari sebagian surat An-Nisa ayat 34, yang berbunyi:

“Kaum laki-laki, itu adalah seorang pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena itu Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka “.

Ulama berpendapat bahwa sebaik-baiknya pemimpin adalah seorang lelaki, karena perempuan hanya akan merusak dengan ketidak pantasannya untuk seorang pemimpin. Tidak dapat dipungkiri juga dalam sebuah negara yang demokrasi, bahwasannya demokrasi ialah semua suara sama tidak memihak pada satu suara dalam artian perempuan dan laki-laki adalah satu suara.

Dari ayat tersebut bahwa tidaak diperbolehkannya seorang perempuan memerintah dalam sebuah keluarga karen bagaimanapun tugas dan tanggung ajwab seorang laki-laki adalah menejadi kepala keluarga, jika suatau keluarga dipimpin oleh perempuan maka runtuhlah keluarga tersebut.

Empat peran perempuan yang wajib dimengerti oleh seluruh perempuan, bahwa pertama adalah perempuan sebagai anak dari ayah dan ibu, kedua perempuan sebagai istri dari suami, ketiga perempuan menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya, dan yang keemoat perempuan menjadi tokoh masyarakat. Tidak ada larangan dalam perempuan bergerak untuk memejukan suatrau bangsa karena setinggi apapun jabatan perempuan dalam sebuah negara atau masyarakat tetap menjadi istri bagi suaminya, yaitu melayani dan mematuhi apa yang suami perintahkan, begitulah peran seorang perempuan dalam dunia, karena memang perempuan tercipta untuk dimuliakan dan untuk menjadi pelengkap bagi laki-laki.

(Siti Zulaeka adalah Mahasiswa Universitas Peradaban Bumiayu (UPB), Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita