Sabtu, 12/05/2018, 10:42:59
Komunikasi dan Praktik Retorika Advokatif
Oleh: Aizul Istiqomah

Dasar-dasar perkembangan illmu komunikasi dapat ditelusuri mulai awal perkembangan retorika pada masa Yunani kuno. Sistematika ajaran retorika sebagai akar ilmu komunikasi paling tua, diletakkan oleh orang-orang Syracuse, sebuah daerah koloni Yunani di Sisilia.

Dikisahkan, daerah ini sudah lama dikuasai oleh sistem pemerintahan tiran yang menindas rakyat. Pemerintahan saat itu memiliki kegemaran menyerobot tanah rakyat. Sekitar tahun 465 SM, rakyat melakukan revolusi karena tidak kuat menahan derita kekuasaan tirani. Tirani ditumbangkan, demokrasi ditegakkan, dan tanah rakyat dikembalikan. Permasalahannya adalah adalah, bagaimana cara mengembalikan tanah rakyat yang sebelumnya dikuasai oleh negara tersebut?

Disinilah awal proses retorika terjadi. Rakyat yang kehilangan tanah harus dapat meyakinkan dewan juri di pengadilan bila ingin tanahnya kembali. Dewan juri membutuhkan keyakinan yang kuat sebelum menyerahkan tanah tersebut kepada pemiliknya. Jika rakyat tidak dapat meyakinkan, dewan juri tidak akan melepaskan tanah yang telah dikuasai dan dirampas oleh oleh negara.

Dewan juri membutuhkan keyakinan dari tutur kata rakyat ,karena secara hukum, tanah yang dimiliki oleh rakyat sebelumnya tidak memiliki legal formal yang berkekuatan hukum, seperti sertifikat tanah sebagai bukti keabsahan ataupun bukti kepemilikan tanah. Dalam situasi demikian, maka bagi siapa saja yang memiliki ketrampilan berbicara dan berlogika untuk meyakinkan dewan juri, dialah yang akan mendapatkan kembali tanahnya.

Pada masa inilah bermunculan ahli retorika sekaligus ahli logika. Sejumlah tokoh retorika yang muncul pada waktu itulah adalah Empedocles (430-290 SM) yang hidup di Agregentum, Sisilia. Ia mengajarkan prinsip-prinsip retorika yang kelak dipopulerkan oleh Gorgias di Athena, Yunani. Pada tahun 427 SM, Gorgias dikirim sebagai duta ke Athena. Saat itu Athena tengah berada dalam puncak kejayaan, dimana parlemen dan pengadilan membutuhkan banyak orang yang terampil berbicara, berdebat dan berlogika.

Gorgias melihat hal ini sebagai peluang pasar yang menjanjikan untuk mendidik orang yang bebakat dalam berbicara. Maka pada masa itu, Gorgias mendirikan sekolah retorika yang pertama. Ajaran retorika Gorgias yang semula terinspirasi dari Empedocles berkembang secara luas. Ajaran retorika Gorgias menekankan dimensi puitisasi kata-kata dan teknik berbicara impromtu.

Sekolah retorika Gorgias menjadi populer dan terkenal. Bersama sahabat-sahabatnya yang seprofesi, Gorgias berpindah-pindah dari satu kota ke kota yang lain untuk menyebarkan ajaran retorika yang dirintisnya. Tokoh lainnya adalah Demosthenes, yang mengembangkan gaya retorika yang jelas, lugas, serta keras. Kekuatan ajaran retorika Demosthenes terletak pada kecerdikannya menggabungkan narasi, argumentasi, dan tata cara penyampaian gagasan. Ia juga sempat mendirikan sekolah retorika yang paling berhasil pada tahun 391 SM.

Aristoteles melanjutkan kajian retorika secara lebih ilmiah. Ia menulis tiga buku sekaligus yang berjudul De Arte Rhetorica. Dari sinilah kita memperoleh lima penyusunan pidato yang terkenal sebagai The Five Canons of Rhetoric, yakni: inventio (penemuan), disposito (penyusunan), elocutio (gaya), memoria (memori) dan pronuntiatio (penyampaian).

Dari masa Yunani hingga masa Romawi, retorika selalu dikaitkan dengan persoalan politik, kenegaraan dan kewarganegaraan. Sampai pada akhirnya, retorika dianggap sebagai masalah yang dapat mengganggu kekaisaran Romawi karena sejumlah kaisar pada masa Romawi tidak berkenan dengan orang yang pandai bicara. Masa ini merupakan masa terkelam retorika, berlangsung hingga abad pertengahan (400-1400).

Sedangkan di Eropa, pada massa kelam itu tradisi retorika diabaikan hingga muncul masa kebangkitan bagi dunia, khususunya di belahan Eropa yang kita kenal dengan masa renaissance. Pada masa peralihan ini, retorika bangkit kembali. Dalam situasi kebangkitan tersebut, banyak orang membutuhkan juru bicara yang handal untuk meyakinkan publik secara luas. Pater Rumus, seorang yang berminat mendalami retorika sebagai seni ilmu berkomunikasi pada masa tersebut.  Renaissance inilah yang mengantarkan kita pada retorika modern. Retorika modern memnculkan nama Roger Bacon yang memperkenalkan metode retorika eksperimental.

Aliran pertama retorika modern menekankan aspek psikologis yang lebih dikenal dengan aliran epistemologi. Aliran ini berusaha mengkaji retorika klasik dalam perspektif perkembangan psikologi kognitif yang membahas proses mental. Aliran kedua retorika modern dikenal dengan nama belles lettres (tulisan yang indah). Aliran ini menekankan pada penyusunan pesan dan pengunaan bahasa dalam berpidato.

Pada abad ke-20, retorika banyak dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan modern. Ilmu-ilmu psikologi dan sosiologi mulai mencampuri dan mempengaruhi retorika. Istilah retorika pun mulai bergeser menjadi speech, speech communication, oral communicationi dan public speaking.

(Aizul Istiqomah adalah Mahasiswa Universitas Perdaban Bumiayu (UPB) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)



 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita