Senin, 28/05/2018, 16:19:58
Oleh-Oleh dari Pesantren Al Hikmah
Oleh: Baqi Maulana Rizqi

Baru satu minggu ini, penulis menyempatkan untuk siaturrahim ke pengasuh pondok pesantren Al Hikmah 02 Desa Benda. Pondok yang sudah cukup usia ini, Alhamdulillah masih tetap eksis di tengah pusaran arus modernisasi dan derasnya arus globalisasi.

Satu prestasi yang bisa dijadikan hikmah bagi pendidikan khususnya, bahwa local wisdom dalam metodologi pendidikan masih mampu bersaing dengan pendidikan dengan branding modern. Pasalnya pondok yang mulai diminati santri pada tahun 1911 ini, sangat memfokuskan kebijakan yang bisa diterima dikalangan masyarakat pedesaan dan fleksibel juga untuk masyarakat kota. Terbukti santri yang menempati pesantren ini dari msayarakat kota dan desa masih meminatinya, ini kiranya yang menjadikan pondok ini masih tetap eksis dalam pendidikan.

Dari diskusi kecil yang mulai dirangkai dikediaman Abah K.H Sholahudin, beliau banyak meriwayatkan metode yang dilakukan oleh Kyai sesepuh Pondok Al Hikmah yakni Kyai Kholil Bin Mahhali yang sangat mengedepankan suri tauladan dan keseimbangan antara apa yang diajarkan dengan apa yang dilakukan.

Ada kombinasi yang bagi penulis mulai jarang ditemui di dunia pendidikan sekarang, yakni keseimbangan pada teori dan praktik. Beliau menjelaskan bahwa suatu hari, Kyai Kholil mengajarkan tentang bab najis pada malam harinya dengan penuh khidmat dengan metode pengajaran sorogan ala pesantren khas dengan kitab kuningnya.

Keesokan harinya karena Kyai Kholil juga berternak ayam, sengaja dilepaskan dari kandangnya begitu saja, sehingga banyak ayam yang masuk ke dalam masjid. Santri yang memang menggunakan masjid sebagai tempat sholat dan mengaji, melihat banyak ayam berkeliaran sempat dibuat bingung, santripun mengusir ayam tersebut.

Kyai kholil dengan tenangnya menanggapi kejadian tersebut penuh dengan kesabaran, kyai Kholil ndawuh bahwa masjid itu tujuan dibangunya untuk tempat beribadah, dan orang yang mau beribadah harus suci dahulu mulai, dari suci badan, suci pakaian, suci tempat. Kalau badan belum suci berwudhu, kalau pakaian terkena najis dicuci dan kalau tempatnya belum suci dibersihkan. Ada pun jika masjid sebagai tempat beribadah terkena najis contohnya kotoran ayam, harus dibersihkan terlebih dahulu. Caranya dengan membersihkan kotoran ayam tersebut, sampai dengan rasa dan baunya sudah tidak ada. Silahkan bagi santri mempraktikannya.

Sepenggal riwayat diatas memang sederhana, namun ada makna yang dalam jika diurai. Sebab yang ingin kyai ajarkan adalah keseimbangan antara teori dan praktik. Proses semacam ini yang menurut penulis mulai langka, sebab dengan situasi dan kondisi yang semakin terbuka dalam menawarkan kemudahaan seperti kemajuan teknologi, sedikit banyaknya mempengaruhi proses belajar dan mengajar. Ini menimbulkan berbagai bentuk kemudahan dan jika tidak ada antisipasi untuk mengedepankan subtansi maka sarat dengan pola-pola instan yang dipakai dalam cara mendapatkan, baik dalam soal pendidikan maupun yang lainnya.

Contoh sederhana, semakin maraknya gadget dipasaran dan dikonsumsi pelajar. Dengan itu pula lah aktivitas copy paste menjadi pelarian bagi pelajar baik tinggat pemula atau mahasiswa yang mulai sungkan dengan menggali informasi lebih dalam atas tugas atau dalam proses pencarian informasi dan keilmuan, sebab teknologi semakin menawarkan kemudahaan dalam segala hal.

Namun yang perlu digaris bawahi adalah apakah dengan kemudahaan hal yang berkaitan dengan substansi akan diraih, disini penulis cukup skeptis sebab ketidakjelasan silsilah tenaga pengajar atau riwayat kelimuan, menurut penulis akan semkin menjauhkan dari pengertian sesungguhnya. Disini ada sebuah misd dalam proses pencarian dengan tujuan yang hendak dicapai, apaun sola tujuan tersebut.

Dalam pembahsan ini yang hendak penulis ungkit, yakni terkiat misd yang kerap terjadi di era post modern ini. Jika persoalan ini diarahkan pada ruang aktivitas pembahasan ketuhanan, cukup tegang memang karena dalam lingkaran teologi. Sebab salah sedikit stampel penghinaan mudah didakwakan, jika salah ucap atau salah perspektif.

Dengan maraknya pengguna penikmat kecanggihan teknologi, apakah manusia sekarang akan sampai pada soal hubungan degngan tuhan. Pasalnya seperti ini, madzhab manusia sekarang dalam beragama sangat banyak seklai, misalkan saja ada fenomena kawan-kawan penulis yang mendadak menjadi penceramah soal ketuhanan yang sedikit banyaknya mengambil dari madzhab Whastapp dan madzhab Youtube. Bukan karena penulis skeptis buta terhadap kemajuan teknologi atau ada masalah pribadi dengan pemakai referensi teknologi.

Namun, yang perlu penulis sampaikan adalah bahwa dalam mendapatkan ilmu/penegtahuan harus jelas nasabnya apalagi jika sudah dikaitan dengan pembahasan teologi. Sebab kejelasan nasab sangat mempengaruhi keilmuan seseorang, karena logikanya aktivitas tatap muka dan pembelajaran langsung lebih menjamin tingkat pemahaman seseorang. Beda halnya dengan yang nasabnya tidak jelas atau menggantungkan pada teknologi serta aplikasinya, sehingga ini yang memunculkan pertanyaan yang tidak ada selesainya sebab ketidakjelasan pengetahuan serta komuniasi secara langsung antar pemberi ilmu/pengetahun dan yang meneriman tidak diperolehnya. Hal semacam ini yang sangat membuka peluang misd, dan jika diteruskan apakah dapat dipertanggungjawabkan.

Sekali lagi maksud, penulis bukan semata skeptis buta terhadap kemajuan teknologi namun sebatas menyatakan bahwa kejelasan guru (pemeberi ilmu) baik dari aspek pengethuan atau perilakunya sangat mempengaruhi kualitas ilmu. Kiranya seperti itu dan ada baiknya riwayat diatas bisa dijadikan renungkan serta hikmahnya bagi kita untuk lebih seimbang antara teori dan pratiknya.

(Baqi Maulana Rizqi adalah Kader Komisariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bumiayu, Mahasiswa Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)



 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita