Kamis, 05/07/2018, 20:15:00
Kejaksaan Brebes Tangkap Buronan Kasus Korupsi
LAPORAN TAKWO HERIYANTO

Ilustrasi

PanturaNews (Brebes) - Kejaksaan Negeri (Kejari) Brebes, Jawa Tengah, berhasil menangkap, sekaligus mengeksekusi terpidana kasus korupsi yang sempat menjadi buronan selama 4 tahun.

Terpidana yang diketahui bernama Sunardi (63) bin Jihat asal RT: 8, RW: 3 Desa Pamedaran, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten ini, berhasil ditangkap oleh petugas kejaksaan, setelah sebelumnya melakukan pengintaian selama 7 bulan.

Terpidana ditangkap tanpa adanya perlawanan di sebuah toko kelontong miliknya di Desa Cilangkap, Kecamatan Tapos, Depok, Jawa Barat, Rabu 4 Juli 2018 kemarin.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Brebes, Transiswara Adhi mengatakan, proses penangkapan dipimpin oleh Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Brebes, Arie Chandra bersama sejumlah anggotanya.

"Adapun penangkapan terhadap terpidana yang sebelumnya telah divonis 3 tahun 6 bulan penjara, karena kasus penyalahgunaan bantuan sosial UPPO (Unit Pengolah Pupuk Organik) sebesar Rp 340 juta pada tahun 2013," ujar Kajari Brebes, Transiswara Adhi saat jumpa pers di kantornya, Kamis 5 Juli 2018.

Dijelaskannya, ia disidang secara In Absentia dan divonis oleh PN Tipikor Semarang sesuai putusan nomor 120/pidsus/tpk/ 2017 tanggal 10 Januari 2017.

"Dia pernah datang sekali saat dilakukan penyidikan pada tahun 2016. Kemudian hingga proses pengadilan dan vonis, namun terpidana kabur hingga 4 tahun dan kami akhirnya berhasil menangkapnya pada Rabu kemarin," katanya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, dana bantuan sosial UPPO dan peternakan senilai Rp 340 juta, diajukan oleh Kelompok Tani Maju Bersama yang diketuai oleh Sunardi bin Jihat. Setelah dana cair dan masuk ke rekening Sunardi, dana diambil dalam tiga tahap.

Pertama untuk kegiatan pembuatan kandang, membeli 35 ekor sapi dan membeli mesin pengelola pupuk organik dari kotoran sapi. Dalam pelaksanaan, dari 35 sapi itu 3 diantaranya mati dan menyisakan 32 ekor. Namun oleh Sunardi, sapi itu dijual tanpa pemberitahuan anggota kelompok lainnya.

Secara sepihak terpidana bertahap menjual semua sapi bantuan ini. Pertama 15 dan kemudian 17 ekor. Akibat perbuatannya itu, negara dirugikan sebanyak Rp. 209.206.950.

"Akibat perbuatannya, terdakwa melanggar Pasal 3 jo. Pasal 18 UURI No. 31 Tahun 1999 Jo. UURI No. 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan Tipikor," bebernya.

Selain penjara 3 tahun 6 bulan, Pengadilan juga menghukum terdakwa dengan denda sebesar Rp 209.206.950. Sesuai ketentuan, denda harus dibayar paling lambat 1 bulan sesudah putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap.

"Jika terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti, maka diganti dengan pidana penjara 2 tahun," urainya.



 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita