Selasa, 14/08/2018, 10:42:22
Urgensi Kesadaran Geopolitik dalam Krisis Air Bersih
Oleh: Novita Fauziyah, S.Pd

Ilustrasi

BEBERAPA pekan terakhir sejumlah kecamatan di wilayah Pantura seperti Brebes dan Tegal dilanda krisis air bersih. Kekeringan akibat musim kemarau kian meluas. Menurut data yang dikutip dari Radar Tegal (6/8), ratusan Kepala Keluarga di wilayah Brebes Selatan hingga saat ini masih kesulitan mendapatkan air bersih. Selain Brebes, Wilayah Pantura lain seperti Kabupaten Tegal juga demikian. Setidaknya ada tiga kecamatan di Kabupaten Tegal yang mengalami krisis air bersih masing-masing Warureja, Surodadi dan Jatinegara (news.detik.com 25/7).

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga ada yang mendapat bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Palang Merah Indonesia (PMI). Adapula yang membeli di tukang air bersih keliling maupun membuat kolam kecil untuk resapan. Mereka rela antri dan juga berjalan bolak-balik menuruni jalan untuk mendapatkan air bersih.

Kondisi geografis menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi penyebab kekeringan. Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan iklim yang tropis. Kondisinya dipengaruhi juga oleh anomali el nino. El nino merupakan peristiwa memanasnya suhu air permukaan air laut di Pantai barat Peru – Ekuador yang menyebabkan gangguan iklim secara global. Fenomena el nino menyebabkan curah hujan Indonesia menjadi berkurang, meskipun tidak semua wilayah di Indonesia dipengaruhi oleh fenomena el nino.

Kesadaran terhadap letak geografis wilayah sangat dibutuhkan berkaitan dengan pola aturan yang diberlakukan dalam mengelola tata ruang. Hal ini diharapkan dapat meminimalisir dampak maupun mengoptimalkan persiapan yang dilakukan terkait dengan peristiwa bencana alam. Kesadaran inilah yang disebut dengan kesadaran geopolitik. Kesadaran geopolitik ringkasnya adalah kesadaran untuk memelihara urusan-urusannya berdasarkan pengaturan terhadap wilayah geografis yang ditempatinya. Pemeliharaan urusan tersebut tentu menggunakan aturan yang khas. Kesadaran tersebut dilandasi oleh pandangan tentang kehidupan ini.

Dalam melihat kondisi kekeringan yang melanda wilayah Pantura tersebut, perlu ada kesadaran geopolitik baik pada tingkat masyarakat maupun pemerintah agar langkah yang diambil pun bisa tepat. Kesadaran geopolitiknya pun berdasarkan kesadaran kedudukan kita sebagai hamba dari Sang Pencipta alam semesta ini. Bagaimana mungkin kita dapat mengelola tata ruang dengan baik mana kala kita tidak memahami hakikat keberadaan kehidupan sekitar kita serta aturan yang dipakai adalah aturan yang hanya berdasarkan hawa nafsu saja? Yang ada hanyalah kerusakan dan kenistaan kehidupan.

Harus dipahami bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan kekeringan. Selain faktor iklim juga ada gangguan hidrologis. Dilihat dari segi faktor iklim, curah hujan rendah menyebabkan terjadinya kekeringan. Kemudian dari segi gangguan hidrologis misalnya terjadinya alih fungsi hutan sebagai daerah resapan maupun terganggunya fungsi penampungan air seperti waduk.

Mengenai faktor iklim, pemerintah dapat melakukan kajian mendalam terkait dengan kondisi cuaca dan melakukan pemetaan wilayah. Hasilnya bisa disosialiasikan kepada masyarakat baik melalui penyuluhan maupun edukasi yang lain. Pemerintah bersama masyarakat dapat membangun dan merawat penampung air maupun sarana prasarana penunjang. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan juga seharusnya kemudian memperhatikan kebijakan tata kelola area hutan maupun sejenisnya seperti masalah eksploitasi sumber air. Jangan sampai terjadi alih fungsi hutan demi kepentingan para kapitalis. Demikian juga sumber mata air yang notabene dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan bersama. Pemerintah bersama masyarakat hendaknya juga melakukan muhasabah atas kondisi alam. Jangan sampai secara tidak sadar hak mereka sebagai ciptaan dari Sang Pencipta Al Khaliq justru dilanggar. Dengan kesadaran geopolitik yang berlandaskan kesadaran hubungannya dengan Sang Pencipta Al Khaliq maka berharap keberkahan dari langit dan bumi akan dicurahkan kepada kita. Aamiin. 

(Novita Fauziyah adalah seorang pendidik, tinggal di Desa Tegalglagah, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)



 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita