Rabu, 18/05/2011, 06:43:00
Diduga Palsukan Akta Tanah, Bank dan Notaris Digugat
Kuntoro

Ilustrasi

PaturaNews (Brebes) - Salah satu Bank Syariah dan Notaris di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah digugat atas dugaan pemalsuan akta tanah milik Machali Efendi (57) warga Jalan Dr Setiabudi Nomor 01 RT 04 RW 01 Kelurahan Gandasuli, Kecamatan Brebes, Jawa Tengah. Selaku penggugat, Machali mengaku tidak pernah mengalihkan hak milik atas dua Sertifikat Hak Milik (SHM) Nomor 199 dan SHM Nomor 467 kepada orang lain. Ironisnya, SHM tanah miliknya itu sudah berubah nama menjadi milik Moh Husen.

Begitu mengetahui isi akta-akta yang tidak benar dan tidak sesuai dengan kenyataan, Machali saat itu segera menghubungi H Amansyah, warga Jalan Hanoman Nomor 3 Kelurahan Slerok Kota Tegal yang telah meminjam akta tanahnya. Selain itu ia juga menghubungi Moh Husen (50) warga Jalan Krajan N0 48 Desa Kaligayam Kecamatan Talang Kabupaten Tegal, yang namanya tercantum sebagai pemilik kedua akta tersebut.

“Saya telah minta mereka berdua untuk membatalkan akta-akta tersebut baik secara lisan maupun tertulis dan sekaligus mengembalikan sertifikat-sertifikat saya,” tutur Machali, didampingi pengacaranya Tri Setiadi SH, Rabu 18 Mei 2011 pagi, di rumahnya Jalan Jendral A Yani 71 Brebes.

Seperti diberitakan sebelumnya, Machali terbujuk rayu H Amansyah yang saat itu menjadi kandidat calon Walikota dalam bursa Pilwalkot Tegal untuk periode 2004-2009. Dirinya meminjamkan sertifikat tanah kepada Amansyah. Akibatnya, kini dia kehilangan tanah seluas  1.120 meter persegi. “ Waktu itu  Amansyah meminjam sertifikat untuk agunan di Bank, uangnya akan diginakan sebagai modal pencalonan walikota,” ujarnya.

Lebih jauh dikatakan, saat itu menurut H Amansyah dan Moh Husen,  terjadinya akta pengikatan Jual-Beli di Notaris / PPAT Nur Chasanah SH adalah atas perintah saudara Ismet Wijaya selaku Account Manager PT Bank Muamalat Cabang Pekalongan. “Katanya untuk mempermudah administrasi pencairan Kredit dan sifatnya hanya pura-pura belaka. Saya diminta untuk tidak terlalu kuatir karena toh sertifikat dipinjam untuk sementara saja, itu kata H Amansyah,” ujar Machali.

Kemudian dibuatkan akta pura-pura berikutnya, lanjut Machali, dimana Moh Husen melakukan transaksi dengan Armansyah Mirza SH, selaku pimpinan Bank Muamalat Cabang Pekalongan dihadapan Notaris Riza Sungkar SH di Pekalongan, yaitu Akta Penyerahan Nomor 65 tertanggal 28

Desember 2005, Akta Jual Beli dengan hak membeli kembali Nomor 67 tertanggal 28 Desember 2005, Akta Jual Beli Nomor 68 tertanggal 28 Desember 2005, dan Akta Pengosongan Nomor 69 tertanggal 28 Desember 2005.

Sementara itu menurut Tri Setiadi SH, pengacara Machali, mereka bertiga (Machali, H Amansyah da Moh Husen) telah membuat Surat Pernyataan Nomor 01 Tanggal 15 Maret 2005 di hadapan Notaris Bambang Mangku TribuwoNomor SH di Kota Tegal yang menerangkan Moh Husen menyatakan bahwa SHM Nomor 199 / Desa Gandasuli seluas 800 meter persegi atas nama Moh Husen dan SHM Nomor 497 / Desa Gandasuli seluas 320 meter persegi atas nama Moh Husen adalah milik Machali. Sedangkan nama yang tertera dalam kedua sertifikat tersebut hanyalah pinjam nama saja. “Kedua sertifikat tersebut sedang menjadi agunan di PT Bank Muamalat Cabang Pekalongan dan akan di serahkan kembali pada tanggal 8 Mei 2005,” terang Tri.

Namun, kata Tri, setelah lewat waktu tanggal 8 Mei 2005 ternyata baik H Amansyah maupun Moh Husen tidak menepati janji dan cenderung menghindar. Sehingga Machali melaporkan tindakan penipuan dan penggelapan Pasal 372 dan 378 KUHP di Polres Brebes pada tanggal 24

Pebruari 2007. Hingga kini laporan tersebut belum ditindak lanjuti pihak kepolisian dengan alasan H Amansyah tidak dapat dihadirkan untuk diperiksa karena kabur.

Berkas gugatan terhadap Pimpinan PT Bank Muamalat Cabang Pekalongan dan Nur Chasanah SH Notaris / PPAT di Brebes, akhirnya dilayangkan ke Pengadian Negeri Brebes dengan Nomor Reg 23/Pdt.G/2010/PNBbs.

“Kami optimis gugatan kami akan menang, karena Moh Husen melalui surat jawaban untuk Majelis Hakim Pemeriksa Perkara Perdata ini tertangal 27 April 2011 yang lalu telah mengakui bahwa adanya pemalsuan tanda tangan dirinya,” ungkap Tri, mantan anggota tim likuidasi sebuah bank swasta di Tegal. Dalam surat tersebut, Moh Husen mengaku tidak pernah menandatangani atau menghadap dan bertemu sekalipun dengan Notaris Nur Chasanah. Ia juga tidak pernah melakukan jual beli dengan saudara Machali Efendi, sehingga ia tidak pernah memberi uang sepeserpun sebagai pembayaran atas jual beli tanah dan bangunan milik Machali.

“Saya minta pengadilan menghukum Pimpinan PT Bank Muamalat sebagai tergugat I untuk mengembalikan sertifikat-sertifikat tanah milik Machali tanpa syarat apapun, kalau perlu dengan bantuan kepolisian,” tandasnya.

Sementara itu, Notaris Nur Chasanah saat dikonfirmasi dikantornya di Jalan A Yani Brebes, Rabu 18 Mei 2011 sore, enggan berkomentar. Ia minta dikonfirmasi bersama dengan Moh Husen dan Notaris Sopiyah di Tegal. “Nanti kalau mau konfirmasi masalah itu saya inginnya di Tegal bersama dengan Notaris Sopiyah dan Moh Husennya, mas!,” pintanya.


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita