|
Dalam pidatonya pada upacara peringatan kelahiran Pancasila 01 Juni 2011, Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Sukarnoputri menegaskan, jadikanlah gotong royong sebagai intisari Pancasila dalam cara berfikir, cara bertutur dan cara kerja. Jangan pernah lelah untuk berfikir dan bertindak secara gotong royong. Karena hanya dengan cara itulah, Pancasila bisa menjadi ideologi dinamis yang hidup dan berdialektika di tengah-tengah bangsa yang berbhineka tunggal ika.
Menurut Megawati, salah satu pesan Bung Karno tentang Pancasila menyebutkan, jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu menjadi satu realiteit, yakni jikalau kita ingin hidup menjadi satu bangsa, satu nationaliteit yang merdeka, ingin hidup sebagai anggota dunia yang merdeka, yang penuh dengan perikemanusiaan, ingin hidup diatas dasar permusyawaratan, ingin hidup sempurna dengan sociale rechtvaardigheid, ingin hidup dengan sejahtera dan aman, janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya, ialah perjuangan, perjuangan, sekali lagi perjuangan.
“Oleh karena itu, berjuang, berjuang dan sekali lagi berjuang di jalan ideologi Pancasila 1 Juni 1945 dan harus menjadi teladan hidup bagi setiap pejuang Pancasilais. Hanya dengan cara itulah, kita dapat mencapai tujuan masyarakat adil dan makmus sesuai cita-cita didirikannya negara proklamasi 17 Agustus 1945,” ujar Megawati.
Lebih jauh Megawati mengemukakan, pada 1 Juni 1945, untuk pertama kalinya Bung Karno mengumandangkan sebuah pidato maha penting di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Yaitu sebuah nilai-nilai pancasila yang digali Bung Karno dari persada Indonesia, kemudian pidato itu dirumuskan ke dalam alinea ke-empat pembukaan UUD 1945.
Pidato maha penting bagi bangsa Indonesia itu memuat 2 alasan mendasar. Pertama, Pancasila telah menjadi norma fundamen, filsafat, pikiran yang sejernih-jernihnya, jiwa serta hasrat yang sedalam-dalamnya untuk diatasnya didirikan bangunan Indonesia merdeka yang kekal dan abadi. Dalam kedudukan demikian, Pancasila telah menjadi roh yang membimbing arah perjuangan mencapai Indonesia merdeka dan berdaulat penuh. Bahkan lebih dari itu, Pancasila telah menjadi bintang penuntun bagi bangsa ini dalam mengarungi masa depan yang masih jauh membentang di hadapan lapisan generasi akan datang.
Kedua, Pancasila sekaligus telah berfungsi sebagai alat efektif yang mempertautkan bangsa Bhineka ke dalam ke-Ika-an yang kokoh. Pancasila telah menjadikan magnet yang memberikan alasan bagi kita untuk menerima kemajemukan sebagai anugerah. Sebuah fungsi instrumentalistik yang efektif dalam menghindarkan bangsa ini dari kemungkinan terjadinya sengketa ideologis yang berkepanjangan, yang bagi beberapa bangsa baru telah memekan korban anak-anaknya sendiri.
Akan tetapi beberapa dekade usaha mengisi kemerdekaan, banyak disaksikan, di satu sisi Pancasila telah dipisahkan keterkaitannya dengan penggalinya. Telah dikaburkan pengertian-pengertiannya, diselewengkan dan akhirnya secara perlahan ditinggalkan dalam prakteknya. Di sisi lain, keteguhan kita sebagai pancasilais, dalam memperjuangkan Pancasila agar menjadi ideologi yang hidup, telah mengalami perapuhan.
“Untuk itu, dalam rangka memepringati hari lahirnya Pancasila, saya mengamanatkan kepada semua pejuang-pejuang pancasilais, satukan hati, fikiran, ucapan dan tindakanmu ke dalam satu tarikan nafas perjuangan mewujudkan Pancasila. Jangan pernah biarkan tindakanmu mengkhianati ucapanmu, jangan pernah ucapanmu mengkhianati fikiranmu, dan jangan pernah fikiranmu mengkhianati hati nuranimu. Di dalam kesatuan dan keteguhan hati, fikiran, ucapan dan tindakanmu, Pancasila akan menampakan kewibawaannya,” tandas Megawati.
(Dikutip dari naskan pidato Megawati yang dibacakan saat peringatan Hari Lahir Pancasila di DPC PDI Perjuangan Kota Tegal, Jawa Tengah)