Selasa, 25/12/2012, 10:37:04
Nadzar, Calon Pengantin Lepas Dua Ekor Mentok
Muhammad Ridwan

Calon pengatin pria melepas mentok di jembatan sungai Waluh Desa Beji (Foto: Ridwan)

PanturaNews (Pemalang) - Memang benar adanya, bahwa lain daerah lain pula adat istiadatnya. Itulah yang dilakukan oleh seorang calon pengantin pria, untuk memenuhi nadzar ibunya, dia yang sudah berpakaian rapi dengan setelan jas pengantinnya, melepas dua ekor Mentok (sejenis bebek) di dua jembatan sungai yang berbeda daerah Brebes dan Pemalang.

Prosesi adat itu dilakukan oleh Agus Riyanto (25) warga Desa Siwungkuk, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes yang akan melakukan pernikahan dengan calon pengantin wanita, Winistati (23) asal Dukuh Kedemungan, Desa Loning, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Selasa 25 Desember 2012 di rumah mempelai putri.

Menurut sesepuh Desa Siwungkuk, Sayid (65) prosesi adat semacam itu dilakukan oleh warganya yang akan melakukan hajatan, baik khitanan maupun pernikahan yang sebelumnya sudah pernah nadzar (janji pada diri sendiri) untuk melakukan ritual tersebut.

Dikatakan oleh Sayid, bahwa sebelumnya Munari, ibu dari calon pengantin pria pernah berucap, bahwa jika kelak anaknya menikah akan melakukan ritual seperti yang disampaikan tadi. Karuan saja, selepas adzan dan iqomah, pengantin pria keluar dari rumahnya dan berpamintan untuk menuju ke rumah calon pengantin wanita di Pemalang.

Begitu akan melewati jembatan Sungai Pemali, calon pengantin pria turun dari mobil sambil membawa seekor mentok lalu disaksikan oleh sesepuh desa, mentok itu dilepas ke sungai melalui jembatan. Warga yang kebetulan tahu segera mendekat dan turun ke bawah, untuk menangkap unggas tadi sekedar untu dipelihara ataupun disembelih.

Sesampainya di Pemalang, untuk kedua kalinya calon pengatin pria itu juga melepas satu ekor mentok di jembatan sungai Waluh Desa Beji, Taman, Pemalang yang sempat menjadi perhatian warga setempat.

Disampaikan, sebelum berangkat calon pengantin pria juga melakukan ritual melewati selangkangan ibu dan mbah putrinya (dalam istilah jawa, disuwuk). Itu dilakukan karena calon pengantin pria tersebut mendahului kakaknya untuk melakukan pernikahan, dan karena kakaknya masih berada di luar kota, maka ritual merangkak melewati selangkangan ibu dan mbah putrinya dia lakukan.

Tidak itu saja, tebar beras kuning dan uang receh (logam) juga dilakukan oleh sesepuh yang mengikuti rombongan dari Brebes ke Pemalang. Tebar beras kuning dan uang logam dilakukan di setiap pertigaan sepanjang jalan dari kediaman mempelai pria, sampai ke tempat mempelai putri di Loning Petarukan, Pemalang.


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita