Jumat, 24/05/2013, 01:04:16
Novel Fatrio: Bisnis DO Gula Hanyalah Bisnis Fiktif
Laporan SL Gaharu & Johari

Novel Fatrio

PanturaNews (Tegal) - Terdakwa perkara kredit fiktif di Bank Bukopin Cabang Tegal, di Pengadilan Negeri (PN) Tegal, Jawa Tengah, Novel Fatrio, mengungkap fakta bahwa semua yang dikatakan saksi Parmanto dihadapan majelis hakim adalah bohong dan rekayasa. Parmanto adalah rekan bisnis terdakwa.

Ditegaskan Nevel usai sidang yang digelar Kamis 23 Mei 2013, bahwa semua yang dikatakan Parmanto dan saksi-saksi lain pada sidang sebelumnya, tentang bisnis Delivery Order (DO) gula, adalah bohong karena binis itu fiktif.

“Bisnis DO gula itu fiktif, karena bisnis itu hanya untuk menyamarkan transaksi-transaksi dana dari kredit Bank Bukopin. Jadi semua pengakuan Parmanto soal bisnis hanya untuk menyamarkan saja,” ujar Novel.

Ditegaskan, bahwa bisnis DO gula yang diterangkan Parmanto mempunyai keuntungan besar, hanya fiktif. Bisnis itu hanya dijadikan studi kelayakan, untuk pengajuan kridit kepada Bank BII Cabang Tegal. Parmanto akan mengajukan kredit di Bank BII sebanyak Rp 60 miliar.

“Jadi Parmanto membuat rekayasa bisnis DO gula untuk studi kelayakan. Sedangkan kredit dari Bank Bukopin dibelikan asset-aset yang nantinya dijadikan agunan untuk mendapatkan kredit dari BII. Jadi pengakuan Parmanto dan saksi-saksi lain soal keuntungan dari bisnis gula, bohong semua,” tutur Novel.

Sementara soal rekening ganda, asli dan fiktif yang mencuat dalam persidangan, menurut Novel, sebenarnya diketahui oleh Parmanto. Rekening yang fiktif dibuat untuk performan jadi debitur dengan memiliki saldo yang besar, agar pengajuan kredit ke BII disetujui.

“Jadi kalau dalam persidangan Parmanto kenal saya hanya sebatas rekan bisnis, itu bohong besar. Parmanto dan saya adalah koloni. Satu rangkaian dalam usaha pengajuan kredit ke BII,” tandas Novel.

Hal yang sama dikatakan Ketua penasehat hukum terdakwa, FA Frediyanto Hascaryo SH, bahwa kliennya dan Parmanto merupakan koloni yang tidak bisa dipisahkan, termasuk kredit di Bank Bukopin. Uang dari kredit itu digunakan untuk membeli aset, seperti membeli tanah di Debong, gudang di depan Baharai Inn (BI) dan lain-lain.

Dengan aset-aset yang ada ditambah lagi dengan pembukuan bisnis DO gula yang fiktif itu, rencananya akan diagunkan untuk mengajukan kredit di Bank BII sebesar Rp 60 miliar. Namun sayang, pinjaman di Bank BII tidak cair.

Diberitakan sebelumnya, sidang lanjutan perkara kredit fiktif di Bank Bukopin Cabang Tegal, Jawa Tengah, dengan terdakwa Novel Patrio, di Pengadilan Negeri (PN) Tegal, Kamis 23 Mei 2013, menghadirkan saksi Parmanto, yakni rekan bisnis terdakwa. Parmanto diharapkan banyak mengungkap tentang kredit fiktif itu.

Namun karena Parmanto juga sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Jawa Tengah, maka iapun ingin cari selamat sendiri. Dalam kesaksisannya, Parmanto banyak memberikan keterangan yang dijawabnya tidak tahu dan tidak ingat.

Diterangkan Parmanto, selama bisnis Delivery Order (DO) gula dan jual beli mobil, dengan modal awal Rp 250 juta, dalam waktu sekitar dua tahun, perputaran uang yang ada di rekeningnya menjadi Rp 26 miliar. Kemudian dana tersebut dibelikan asset berupa rumah di Solo seharga Rp 3,7 miliar, rumah di Perumahan Estetika Semarang seharga Rp 2,5 miliar, tanah di depan Hotel Bahari Inn Kota Tegal senilai Rp 8 miliar, dan tanah di Debong Kota Tegal seharga Rp 7 miliar.

“Semua yang saya beli itu dari keuntungan bisnis DO gula dan jual beli mobil,” ujar Parmanto.


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita