Senin, 23/09/2013, 01:37:13
Nelayan Perlu Diarahkan Gunakan Bahan Bakar Gas
Laporan SL Gaharu & Riyanto Jayeng

Muhammad Yamin (baju hitam) dialog dengan para bakul ikan saat bertandang di TPI Pulolampes, Brebes (Foto: Gaharu)

PanturaNews (Brebes) - Nelayan di wilayah Pulolanpes, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, mengeluhkan besarnya biaya untuk pembelian bahan baker jenis solar setiap kali melaut. Untuk kapal jenis purse seine teri dengan ABK 40 orang, jika berangkat pagi dan pulang sore, kebutuhan solar rata-rata 300 liter, dan untuk kapal jenis koncong dengan ABK 4 orang rata-rata 25 liter.

Dikatakan Ketua Kelompok Nelayan TPI Pulolampes, Karnadi, jika hasil tangkapan sedikit, nelayan akan mengalami kerugian. “Biaya pembelian solar dan es batu, kadang tidak sebanding dengan hasil tangkapan,” ujarnya usai dialog dengan Calon Anggota Legeslatif (Caleg) DPR RI Dapil Jawa Tengah IX (Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes), Muhammad Yamin, SH di TPI Pulolampes, Minggu 22 September 2013 sore.

Dijelaskan Karnadi, selain biaya pembelian solar yang sangat tinggi, nelayan juga mengeluh harga es batu yang mahal karena diambil dari luar Pulolampes. Jika di sekitar Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pulolampes ada pabrik es batu, tentu harga bisa lebih murah.

Mendengar keluhan para nelayan, Muhammad Yamin, SH yang saat ini menjabat Staf Ahli Ketua MPR RI, mengatakan untuk lebih menekan penggunakan bahan bakar, sebaiknya nelayan perlu beralih menggunakan bahan bakar gas (BBG).

“Jika dikalkulasi, penggunaan BBG akan lebih irit, sehingga nelayan akan mendapatkan keuntungan lebih banyak,” tutur Muhammad Yamin.

Dijelaskan, jika kapal jenis koncong menggunakan 25 liter solar, maka setiap akan melaut butuh biaya Rp 175 ribu. Tapi jika menggunakan BBG, misalnya 4 tabung gas 3 kilogram biayanya sekitar Rp 65 ribu. Karenanya nelayan perlu diarahkan menggunakan BBG.

“Saya akan memfasilitasi untuk konsultasi ke ahlinya, dan saya siap diskusi dengan para nelayan untuk mencari solusinya,” kata Muhammad Yamin.

Sementara soal mahalnya harga es batu, menurut Ketua KPSA Gading Jaya Pulolampes, Beni Ali, itu karena es batu didatangkan dari luar. Untuk kebutuhan es batu sedikitnya 300 balok es batu atau sebanyak 15 ton untuk 50 kapal per hari.

“Karenanya jika produksi es batu ada disekitar Pulolampes, maka harga es batu bias ditekan serendah mungkin. Untuk itu, kami rencananya memindahkan mesin pembuat es batu yang ada di Sawojajar yang sudah tidak produksi, dipindah ke Pololampes,” jelas Beni.

Untuk prosesnya, Caleg PDI Perjuangan Nomor Urut 3 ini, siap memfasilitasi untuk dialog dengan Pemkab Brebes. “Kalau memang itu akan menguntungkan nelayan, seluruh nelayan yang ada di Pulolampes swadaya dan gotong-royong untuk mewujudkan rencana mendirikan pabrik es batu,” saran Muhammad Yamin.


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita