Atmo Suwito: Program Sejuta Itik, Jurus Jitu Penuhi Kekurangan
SL-SL Gaharu
Minggu, 29/08/2010, 13:05:00 WIB

Atmo Suwito Rasban, SE.

PanturaNews (Brebes) – Pada tahun 2000-an, Atmo Suwito Rasban, SE oleh komunitasnya dijuluki sebagai ‘Presiden Itik’. Kenapa? Karena, jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) Yogyakarta ini, total menjalani dan ingin mewujudkan visinya; Mengembangkan sentra ternak sejuta itik, sehingga Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, memiliki cluster telur asin.

Untuk menunjang visinya itu, pria yang akrab disapa Mito, kelahiran 10 September 1969 di Desa Pakijangan, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes ini, mendirikan Kelompok Tani Ternak Itik (KTTI) Adem Ayem Desa Pakijangan, sekaligus memaksimalkan Koperasi Adem Ayem yang didirikan tahun 1995.

Mewujudkan mimpi peternakan dengan sejuta itik, dipicu dari banyaknya permintaan telur ke Adem Ayem. Menjelang Lebaran, permintaan telur asin bisa mencapai 1,5 juta butir. Setiap tahun permintaan telur itik bisa mencapai delapan juta butir. Dan itu tak terpenuhi oleh peternak di KTTI Adem Ayem yang jumlahnya sekitar 100 peternak dengan jumlah itik tidak kurang dari 100 ribu ekor.

Produksi telur asin dari Kabupaten Brebes mencapai 1,5 juta butir per bulan, dengan populasi itik mencapai 604,5 ekor. Rata-rata produksi telur asin per tahun 53 juta butir lebih. “Kalau program sejuta itik sudah berjalan, tentu saja permintaan telur akan terpenuhi dengan mudah. Sehingga predikat Brebes sebagai Kota Telur Asin akan beriringan dengan predikan Kota Bawang,” ujar Atmo Suwito, Jumat 27 Agustus 2010 di kediamannya.

Aktifnya koperasi, menurut Atmo Suwito, sedikit banyak menghapus kerja tengkulak yang selama ini merugikan para peternak itik. Pada tahun 2004, ketika harga telur itik dipasaran Rp 850, para terngkulak membeli dari peternak Rp 600. Peternak tidak bisa menolak, karena sebelumnya sudah terikat dengan hutang. Tahun berikutnya, ketika harga telur itik di pasaran mencapai Rp 1100, tengkulak hanya membeli seharga Rp 850.

Melihat situasi yang demikian, Koperasi Adem Ayem mengambil sikap dengan mengambil alih peran tengkulak. Tentu saja langkah yang diambil, lebih banyak menguntungkan peternak. “Caranya, koperasi mengembalikan utang perternak ke tengkulak, dengan syarat telur akan dibeli koperasi dengan harga Rp 1050. Dari harga itu, koperasi untung Rp 50 per butir. Dan itu berjalan hingga sekarang,” tutur Atmo Suwito.

Sedangkan soal pakan itik, KTTI Adem Ayem sudah tidak kesulitan lagi karena sejak tahun 2009 kemarin, sudah memiliki pabrik pakan itik sendiri. Dengan mesin pengolah seharga Rp 500 juta, kapasitas produksi pakan jenis pur sebanyak 3 ton per hari. Untuk kebutuhan anggota sebanyak 80 persen, sisanya untuk permintaan peternak di luar anggota.

Sementara untuk permintaan itik afkir dari luar kota sebanyak 1000 ekor setiap hari, KTTI Adem Ayem tidak bisa memenuhi, karena sebagian itik afkir sudah diambil untuk warung-warung dalam kota. “Jadi, semua permintaan telur maupun itik afkir akan terpenuhi jika program sejuta itik dan sejuta telur sudah tercapai. Dari tahun ke tahun memang semakin berkembang. Dan rencanaya, dalam waktu dekat, saya akan menggabungkan semua kelompok peternak se Kabupaten Brebes,” tandas Atmo Suwito.

Program sejuta itik 2007 – 2012 dari Sang Presiden Itik Pakijangan, adalah jurus jitu memenuhi pesanan konsumen. KTTI Adem Ayem sedang mencari lahan seluas 5 hektar untuk dijadikan sentra peternakan itik. Lahan itu harus jauh dari pemukiman, agar bau tak sedap peternakan itik tidak menjadi polusi bagi masyarakat.

Sebuah cita-cita Sang Presiden Itik Pakijangan terus digalang, sehingga besok, lusa atau kapanpun, Kabupaten Brebes akan punya cluster telur asin selain bawang merah. Sebuah program yang membutuhkan dan harus didukung semua elemen masyarakat, untuk melawan terjangan arus produk-produk luar negeri di tengah ledakan era pasar global.