David Liebert, Korban Dukun Penggandaan Uang
Laporan Riyanto Jayeng & SL Gaharu
Rabu, 03/04/2013, 10:23:50 WIB

David Liebert alias Lie Sentiong

PanturaNews (Jakarta) - Seorang pengusaha sukses yang begerak di bidang jasa ekspedisi di Jakarta, David Liebert alias Lie Sentiong (61) yang menjadi Mualaf pada tahun 1994, warga Perumahan Kedoya Baru, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, mengaku telah menjadi korban tipu daya seorang dukun penggandaan uang, yaitu M Toha alias Muntoha asal RT 3 RW 11 Desa Pilangsari, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Bukan uang hasil penggandaan yang diterima David, namun justru Muntoha berhasil memperdayainya hingga dirinya menanggung kerugian mencapai Rp 3 milyar lebih.

Bahkan lebih fatalnya lagi, sejak 27 Pebruari 2011, David mengalami gangguan pada pembuluh otak kiri. Beruntung, Tuhan masih memberi kesempatan hidup bagi David sampai hari ini, meskipun tim dokter yang menangani penyakitnya telah memvonis usianya tidak akan melebihi 3 bulan, sejak pembuluh otak kirinya dinyatakan pecah.

Kini David Liebert bukanlah David yang dulu. Bukan lagi David yang berbadan tegap, bukan lagi David yang bergelimang harta. Doktrin berkedok kegiatan keagamaan yang ditransformasikan secara paksa oleh Muntoha, telah membalikan kondisi hidupnya hingga 180 derajat. 

Berikut keterangan David Liebert yang dipandu oleh Istrinya kepada PanturaNews.com di kediamanya Perumahan Kedoya Baru, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Minggu 31 Maret 2013 lalu:

Keberanian artis sinetron Adi Bing Slamet yang blak-blakan menguak tabir kepalsuan guru spiritualnya di sejumlah media massa, seakan mengilhami David untuk melakukan hal yang sama. Baginya, kasus yang menimpa Adi Bing Slamet dan sejumlah artis lain yang sudah terkooptasi oleh pengaruh buruk dari paranormal Eyang Subur, hampir sama dengan peristiwa yang menimpa dirinya. Davidpun tidak mau ketinggalan, dia memberanikan diri untuk mengisahkan peristiwa naas yang menimpanya kepada publik. 

Kisah itu bermula di tahun 2006, saat dirinya dikenalkan oleh seorang muslim keturunan Arab warga Kalibata, Jakarta, bernama Azzam kepada M Toha atau Muntoha yang saat itu dikenal sebagai paranormal kondang asal Kabupaten Brebes, yang mampu mengatasi masalah ekonomi untuk mendapatkan uang dengan cara kilat.

Singkat cerita, David yang sudah memeluk Agama Islam sejak tahun 1994 dan menjalani hidup sebagai suami dari istri sah dengan wanita asal Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, sebut saja Iin, menerima tawaran dari Azzam dengan rekannya bernama Amang. 

Doktrin pertama yang diterapkan M Toha kepada David, adalah ritual peleburan dosa. Dalam rangka itu pula, David diminta melakukan peleburan dosa dengan cara menyumbangkan sebagian hartanya untuk kepentingan sosial, seperti pembangunan dan pengadaan sarana ibadah serta santunan kepada fakir miskin dan yatim piatu.

David pun seperti kerbau dicocok hidungnya. Dia menuruti semua yang diperintahkan oleh sang dukun. Kali pertama, David menyetorkan uang sebanyak Rp 600 juta, yang dalihnya untuk sumbangan sosial kepada kaum dhuafa dan yatim piatu, serta pengadaan sarana ibadah.

Hari-hari selanjutnya, David diiming-imingi oleh sang dukun ribuan lembar uang Brazil dan dollar Singapura yang nilai totalnya mencapai ratusan milyar rupiah. David yang sudah terjebak dalam jerat M Toha, rupanya tergiur ingin memiliki dan menikmati uang milyaran yang ditawarkan oleh M Toha. David pun menjalani ritual yang sebagian besar melenceng dari ajaran agama.

Kelicikan yang digunakan M Toha untuk mengelabui calon korbannya, adalah mengemas setiap ritual kemusyrikan itu dengan cara-cara seperti halnya ritual keagamaan. David semakin terjerat dan terjerumus ke dalam lubang kemusyrikan. Segala yang dijanjikan oleh M Toha satupun tidak ada yang terwujud, dan M Toha menghilang begitu saja bagai ditelan bumi. Hidup David menjadi morat-marit dan puncaknya dia jatuh sakit yang cukup parah hingga kini.

Kini David jatuh miskin, menanggung hutang disana-sini yang jumlahnya tidak sedikit. Sementara perusahaannya, PT. Tunas Kreasi Perkasa yang beralamat di Pergudangan Pluit Complex Block C No. 5-A, Jalan Jembatan Tiga Barat, Muara Karang, Jakarta Utara 14440, itu kini diambil alih oleh anak pertamanya, Wiliam Liebert yang dilahirkan oleh wanita keturunan Tionghoa asal Ambon, Fanny Loren.

Lelaki malang kelahiran Makasar 22  Agustus 1952 itu, hanya pasrah kepada Allah SWT. Tubuhnya yang lunglai, bicaranya yang sedikit cedal dan memori otaknya yang tidak sempurna, tidak menjadi kendala baginya untuk tetap berlaku sosial terhadap sesama. Dengan ditemani istri tercintanya, sebut saja Iin, David acap melakukan rutinitas berbagi sedikit harta untuk disedekahkan kepada sesama penderita radang pembuluh otak atau penderita penyakit lainnya. Bagi David, hanya Iin lah yang benar-benar peduli dengan kondisinya saat ini. Sementara keluarga lainnya seperti menjauhinya, disaat David membutuhkanya.

Dengan sabar Iin berusaha mengembalikan kepercayaan David kepada Allah, melalui konsep kesabaran yang diajarkan dalam agama Islam. Hanya istri dan dua anaknya yang selalu berada disisi David. Sejak itu David sangat membenci ulah dukun dan paranormal yang jelas-jelas hanya memiskinkan hidup, dan memurtadkan keimanannya.